hari ke-4, 19 nov
Pagi hari sekitar pukul 5 waktu setempat, bis kami sudah memasuki kota Bangkok. Kami bergegas membereskan barang-barang kami. Sesampainya di Terminal Bangkok, kami mengantri taksi menuju hotel kami di daerah Sukhumvit road soi 30. Menggunakan dua taksi, kami pun tiba di hotel. Hanya satu kamar yang tersedia untuk early check in, sehingga kami berenam berkumpul di kamar tersebut. Mandi serta bersiap-siap untuk tujuan kami selanjutnya. Sekitar pk. 10 siang, kami keluar hotel dan berjalan menuju BTS terdeat, Phrom phong BTS station. Tujuan kami hari ini adalah menuju Grand Palace, dan Wat Pho. Dari BTS Phrom phong menuju BTS Saphan Taksin membutuhkan kira-kira 30 menit, setelah berganti line di BTS Siam. Setibanya di BTS Saphan Taksin, kami harus menggunakan jasa kapal untuk tiba ke Grand Palace. Grand Palace terletak di Ratanakossin Island. di kelilingi oleh sungai Chao praya, dengan luas sekitar 280.000 meter persegi. Grand palace dibangun pada tahun 1782 oleh Raja Rama I dan hingga sekarang masih berdiri kokoh dan indah. Setelah sampai di tempat dimana kami harus turun, kamipun berjalan melewati pasar barulah dapat tiba di Grand Palace. Saat melewati pasar, beberapa dari kami, berhenti untuk mencicipi durian. Wuah, enak sekali, namun harga yang ditawarkan cukup mahal, tidak murah seperti dugaan kami. Tak terlalu beda dengan harga durian di supermarket Jakarta. Puas makan durian, dan berjalan lagi sekitar 5 meter kami berhenti lagi untuk mencicipi ketan mangga (sticky mango rice) harga yang ditawarkan murah meriah! Seporsi ketan mangga hanya 30 baht. dan porsinya cukup untuk 2 orang, jadi kami memesan 3 porsi. Rasa mangganya sedikit asam, dibandingkan dengan mangga harum manis hasil Indonesia, saya lebih suka dengan mangga harum manis :).
Tak lama kemudian kami tiba di Grand palace, berjalan sedikit menuju pintu masuk. Bangunan pertama kali yang kami temui adalah museum tekstil Ratu, kami berencana akan mengunjunginya nanti. Sesampainya di loket, dan membeli tiket masuk ( untuk penduduk Thailand gratis, dan untuk turis asing dikenakan biaya 500 baht) kami pun mulai berfoto dan memasuki bangunan-bangunan megah di dalam komplek istana.
Cuaca saat itu amat panas, belum lagi tepat pk 12 siang kami sampai di Grand Palace. Bangunan pertama yang kami masuki adalah Emerald Budha, sebelum memasuki wihara kami harus melepas alas kaki terlebih dahulu. Sayang sekali dilarang memotret di dalam wihara. Emerald Budha yang dimaksud berada di tengah altar, tidak besar berukuran sedang, dan ditempatkan lebih tinggi sehingga para turis dan yang ingin bersembahyang dapat melihat cukup jelas. Tak lama kemudian kami berjalan dan mencari objek untuk berfoto.
| wajah-wajah kecapean, dan kepanasan |
![]() |
| salah satu tulisan yang ada di pilar |
Panas, capek, haus, itulah yang kami rasakan sehingga banyak dari kami tidak begitu berminat melihat-lihat lagi, Selagi mecari pintu keluar, kami menyempatkan diri melihat museum tekstil sang ratu yang kami jumpai saat pertama kali masuk.
Salah seorang teman kami mencoba mengenakan pakaian tradisional Thailand secara cuma-cuma.
![]() |
| pakaian tradisional Thailand |
Dekorasinya cukup unik, ruangan dengan penyejuk udara yang dapat membuat kami semua yang lelah dan kepanasan ini beristirahat sejenak. Kami kemudian naik ke lantai dua, di sana terdapat pameran pakaian ratu yang sejak beliau muda hingga sekarang. Pakaian yang dipamerkan amat sangat bagus. Desain dan bahan yang digunakan merupakan bahan terbaik. Mulai dari pakaian saat menghadiri pertemuan dunia seperti PBB, hingga pertemuan nasional di Thailand. Sayang sekali dilarang memotret didalam museum, terutama ruangan yang memamerkan pakaian sang Ratu. Cukup puas melihat koleksi busana sang Ratu kamipun kembali mencari pintu keluar dan meninggalkan Grand Palace.
Perjalanan selanjutnya menuju Wat Pho, untuk melihat reclining Budha ( Budha tidur raksasa). Keluar dari Grand palace, kami pun berjalan kaki menyusuri komplek istana dari luar, lalu menyebrang dan belok kanan. Tak jauh dari Grnad Palace itulah Wat Pho berada. Tiba di Wat Pho, kami harus membeli tiket masuk seharga 100 baht per orang. Tujuan utama kami ke Wat pho adalah ingin mencoba Thai massage yang terkenal di sini. Di sini terdapat sekolah pijat yang direkomendasikan banyak turis. Kami pun bertanya kepada pusat informasi dimana letak tempat pijatnya, cukup membingungkan penjelasan yang diberikan. Akhirnya setelah berkeliling, kamipun menemukan apa yang kami cari. Kami langsung mendaftar, dan ternyata giliran kami masih satu jam lagi, jadi kami memutuskan untuk berkeliling terlebih dahulu. Melihat Reclining Budha dan tempat lainnya.
| Reclining Budha |
| Salah satu bangunan di Wat pho |
Reclining Budha memiliki tinggi15 m dan panjang sekitar 43 m dengan posisi lengan kanan menopang kepala sang Budha. Puas melihat-lihat dan berfoto, kami melihat ke bangunan lain, dan menemukan Budha yang sedak duduk dengan posisi biasa yang sering kita temui di wihara. Waktu untuk giliran Thai massage kami pun hampir tiba, sehingga kami bergegas kembali ke tempat tersebut. Tak menunggu lama kami mendapat giliran. Inti dari pemijatannya sih menurut saya sama saja, hanya saja ada beberapa teknik yang berbeda. Berbeda dengan Thai Massage yang kami coba di kota Chiang Mai, kali ini semuanya terasa pas. Setiap titik tubuh ditekan dengan tepat. Kira-kira 30 menit kemudian semuanya menampakkan wajah segar, segala kepenatan hari ini berkurang sudah.
Lapaaarrr...!!! Kami semua bisa dibilang melewatkan makan siang, terakhir kami makan pagi pun sekitar jam 8 pagi. Waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 waktu setempat. Rencananya kami akan makan seafood pada hari ini. Sebuah restoran terkenal yang selalu ramai, dan selalu dipenuhi oleh turis, Somboon Seafood Restaurant. Untuk menuju ke sana, kami meutuskan untuk naik taksi. Setelah beberapa kali memanggil taksi (taksi di daerah wisata selalu borongan) kami akhirnya mendapatkan taksi yang dengan harga borongan lebih masuk akal. Nekad, kami semua memasuki taksi, dengan posisi empat orang di belakang dan dua orang di depan. Kalau dipikir-pikir taksi di Jakarta mana mau mengangkut enam orang sekaligus, dengan posisi dua orang di depan.
Setengah jam kemudian kami tiba di Somboon pusat di jalan Surawong. Akhirnya kami bisa bernapas lega, lepas dari kesesakan akibat kekurangan oksigen di dalam taksi, hahaha...
Segera kami memasuki restaurant dan memesan makanan, KALAP!!! Kami memesan 2 porsi Curry crab, ! porsi oyster with egg, 1 porsi kangkung cah bawang putih, 1 porsi udang bakar, 1 porsi udang goreng garing dengan bawang putih, 1 porsi Ikan with basil leaf. Sebenarnay masih ada beberapa menu lagi namun saya lupa, dan saking kelaparannya kami satu pun tak ada yang memotret makanan yang kami pesan. Saat makanan datang, langsung habis diserbu oleh manusia-manusia yang kelaparan ini. Maafkan kami, hahaha.
Hanya dalam 20 menit semua menu pesanan ludes. Saat tersadar kami melihat sekeliling, pengunjung restoran tersebut tidak ada yang makan sekalap kami. Mereka makan dengan anggun, bahkan dalam cara mereka memakan kepiting. Sekarang kami semua kekenyangan. Semua menu yang dipesan boleh kami acungi jempol.
Segera kami membayar tagihan pesanan kami dan melanjutkan perjalanan, karena masih pukul 7 malam, ada perubahan rencana. Malam ini rencana awal kami adalah melihat Thai Girl Show, namun karena masih pagi maka kami sepakat memutuskan untuk menukar jadwal. Selanjutnya kami meutuskan untuk mengunjungi pasar malam Asiatique di River front. Mencari taksi saat rush hour cukup sulit, dan daerah situ jauh dari BTS station. Cukup lama akhirnya kami mendapatkan sebuah taksi. Namun kali ini tidak semua dari kami naik satu taksi seperti tadi sore, karena itu saya mencari sebuah tkasi lagi. Perjalanan macet dan semua taksi yang lewat penuh. Saya dan dua orang teman memutuskan berjalan kaki hingga mendapatkan taksi. Lima belas menit berjalan kaki akhirnya kami bisa mendapatkan taksi.
Setibanya di Asiatique, kami berpisah. Masing-masing mencari kebutuhannya sendiri-sendiri, ada yang mencari souvenir untuk oleh-oleh, ada yang melihat-lihat, semua kebutuhan berbeda. Asiatique Night Market merupakan pengisi kekosongan setelah pasar malam Lumpini tutup. Asiatique dibuka sejak Mei 2012. Merupakan pasar malam yang menggabungkan gaya hidup dan fashion, harga yang ditawarkan cukup mahal dibandingkan pasar malam lainnya. Di sini terdapat kompleks untuk berbelanja, ada sekitar 1500 toko yang berpartisipasi mulai dari toko yang menjual pakaian, souvenir, sabun, handicraft, bahkan sampai ke furniture. Terdapat dua teater yang ikut memeriahkan Asiatique. Calypso theather dan Joe Louis Puppet theather. Sayangnya kami tidak ada yang sempat melihat pertunjukkan tersebut. Setelah puas berkeliling dan membeli beberapa souvenir untuk dibagikan ke teman-teman di Jakarta, kami berkumpul kembali dan kembali ke hotel. Dalam perjalanan pulang terjadilah insiden 'berdarah' yang sayang sekali tidak dapat saya tuliskan di sini. Kami pun tiba di hotel dalam keadaan capai dan penat.
Hari ke -5, 21 Nov
Kami berencana menuju ke Madam Tussaud yang terletak di Siam Discovery, tiket online sudah di tangan. Hanya empat orang diantara kami yang menuju ke sana, dua orang lainnya akan menyusul.
Tidak ada antrian saat disana, karena kami membeli tiket sebelum jam 12 siang, sehingga tidak begitu ramai dan lagi harganya lebih murah. Yang kami lakukan disana hanya berfoto. Tak ada yang dapat diceritakan lebih lanjut.
Sepulangnya dari Madam Tussaud kami pun makan siang di Siam Paragon, menu makan siang saya kali ini adalah Sirloin Pork with sticky rice. Rasanya unik, asam, asin dan gurih dengan nasi ketan hangat. Unforgetable tastes and drooling now while typing about it. Damn! Sayang sekali saya lupa nama restaurant yang saya singgahi saat itu. Tak sempat berkeliling di Siam Paragon, hanya sempat mengunjungi Gourmet Market (supermarket) dan membeli beberapa kebutuhan salah satunya sosis. Sosis di sana entah mengapa saya suka. Saya dan beberapa teman membelinya. Mengejar rencana berikutnya, maka kami segera kembali ke hotel. Mandi serta bersiap-siap untuk dinner di kapal cruise. Kapal cruise yang kami pesan adalah Chao Phraya Princess Cruise. Travel akan menjemput kami pukul 6 sore di Grand terminal 21 hotel lobby. Mereka tidak dapat menjemput kami di hotel karena daerah penjemputannya tidak mencapai daerah hotel kami. Sebenarnya Grand terminal 21 tidak begitu jauh, hanya saja karena sore itu merupakan rush hour sehingga traffic jam menjadi alasan mengapa kami terlambat. Sekeluarnya dari hotel, kami melihat jalanan tidak cukup padat sehingga memutuskan utnuk naik taksi. Taksi pertama membawa tiga orang teman kami. Saya dan kedua teman lainnya menunggu taksi kedua. Lima menit kemudian kami mendapatkan taksi. Hanya berjarak beberapa meter dari tempat kami menunggu taksi, tiba-tiba jalanan mulai padat dan macet. hampir 30 menit kami hanya maju bergerak tidak terlalu jauh. Akhirnya kami memutuskan untuk berjalan kaki, Grand Termoinal 21 hanya berjarak 2 hingga 3 kilometer didepan kami. Sembari jalan saya mencoba menelpon agen travel yang menjemput mecoba negosiasi untuk menunggu kami, karena kami akan terlambat namun wanita di seberang telepon mengatakan bahwa supir akan menunggu sekitar lima menit saja. Cukup panik, kami bertiga ( tiga teman kami lainnya masih berada di taksi pertama) berjalan setengah berlari, menyebrang jalan meski lampu untuk menyebrang masih merah (Jangan DITIRU!!!). Saat menyebrang saya mendengar seorang bule berkata kepada temannya " they're bad tourist!" (damn! hahaha karena kami menyebrang tanpa mengikuti peraturan yang ada). Hampir pingsan, penuh keringat kami sampai di lobby hotel Grand terminal 21. Supir sudah menunggu dan kami memberitahu bahwa ketiga teman lainnya masih dalam perjalanan. Kira-kira 10 menit kemudian mereka tiba. Mereka ternyata turun dari taksi dan menyebrang ke sini dengan berjalan kaki. Cukup lega, karena kami tidak ditinggalkan...
Tiba di riverfront, kami masih menunggu untuk kedatangan kapal cruise kami. sekitar 30 menit menunggu akhirnya kapal cruise kami datang.
Meja kami di atas dek. Saya memilih upper deck karena lebih hidup suasananya dibandingkan dengan lower deck. Lower deck terlihat seperti fine dining yang serius dan membosankan. Makanan yang berlimpah ruah cukup untuk mengisi perut yang keroncongan ini akibat lari dan serangan panik tadi. Setelah kapal berjalan maka penumpang mulai dipersilahkan untuk mengambil makanan. Antrian yang panjang saat mengambil makanan terjadi. Sembari mengantri saya mencoba melihat menu apa saja yang tersedia. Mulai dari western food, thai food, indian food. Cukup beraneka ragam. Ada beberapa menu yang cukup menggugah selera. Sembari makan, kamipun menikmati pemandangan sungai Chao phraya. Terlihat gemerlapnya Wat Arun dalam cahaya lampu, Grand palace yang megah dalam keheningan malam. Hampir dua jam tak terasa, setelah memutari sungai Chao phraya sembari makan malam, mendengar live music dan berfoto kami harus kembali turun ke darat. Mobil travel sudah menunggu dan kami kembali di antar ke grand terminal 21 serta selebihnya kami kembali ke hotel dengan BTS.
Hari ke -6, 20 Nov
Hari ini adalah yang di tunggu-tunggu!!! SHOPPING DAY. Keluar dari hotel sekitar pukul 10 pagi menuju ke Pratunam area, meeting point kami adalah di hotel indra regent. Bertemu di hotel indra regent kami segera membeli berbagai cemilan dan oleh-oleh berupa makanan khas Thailand. Durian chips, Tamarine dan lain lain. Dalam waktu satu jam tangan kami sudah penuh dengan berbagai oleh-oleh makanan, Akhirnya tiga orang akan pulang dan menaruh belanjaan di hotel lalu kembali kemari. Sambil menunggu mereka datang, saya dan teman yang lain berjalan-jalan di Indra square. Tak lama kemudian mereka datang, dan kami berjalan kaki menuju daerah Makasaan untuk makan siang di sana. Restoran ini cukup enak. Ayah saya yang merekomendasikannya. T seafood. tak jauh bila ditempuh dengan berjalan kaki, sekitar 15 menit. Sesampainya di sana, kami memesan beberapa menu. Curry crab, oyster omelet, cumi lada garam, Tom yam seafood, kailan cah bawang putih, dan lain-lain (saya tidak ingat semua). Kali ini kami dalam keadaan lapar yang normal sehingga kami tidak memakan dengan rakus *blushing
Selanjutnya yang sudah kami semua tunggu-tunggu adalah Shopping to Platinum. Bangga dapat mengklaim tempat ini sebagai pusat shopping terbesar di Thailand, Platinum terletak di jalan phetchaburi d\persis di seberang komplek Pratu nam. Jam di tangan sudah menunjukkan pukul 2 siang, masih ada empat jam untuk berburu barang-barang murah yang bagus. Di sini terdapat pusat pakaian, tas, sepatu, aksesoris dll. TErbagi menjadi 3 zona yang hampir semuanya terdiri dari pakaian wanita (karena kaum hawa lah yang paling sering mengunjungi tempat ini). Untuk para pria disediakan hanya 1 lantai di Zona 2.
Kami berpencar, dan dalam waktu empat jam kami rata-rata telah menghabiskan uang sekitar 1 juta rupiah namun barang yang kami bawa pulang cukup banyak. Rata-rata pakaian wanita berkisar 200-500 baht saja. Salah seorang teman saya sudah memborong pulang 20 pakaian. Saya sendiri berbelanja sekitar 10 potong. Sayangnya pembeli dilarang mencoba pakaian yang akan dibeli, bahkan untuk mencoba dengan memakai pakaian lengkap pun tidak diperbolehkan. Untuk fitting room terdapat di toilet.JAdi bermodalkan kira-kira saja, saya nekad membeli. Masalah muat atau tidaknya urusan belakangan. Tak terasa waktu bergerak begitu cepat, toko-toko mulai tutup dan kami terpaksa pulang. Selanjtnya dengan membawa barang belanjaan kami pun menuju ke Pat pong red district. Tujuan utama kami adalah ingin melihat Ping Pong show ( thai girl show), saat menyebutkan tujuan kami, sang supir taksi bertanya " your pat pong is pat pong one or pat pong two? do you want to see show or shopping?" Sebelumnya saya mencari tahu di google tentang show ini. Seorang blgger menyebutkan bila supir tkasi bertanya Patpong one or two? jawab saja two. Akhirnya saya menjawab "shopping". Namun, seorang teman kami bertanya lebih jauh tentang show yang sang supir tawarkan. Akhirnya sang supir pun menawarkan untuk melihat show hanya dengan 1000 baht dan memberhentikan taksinya di sebuah kompleks ruko yang gelap. Terlihat dari dalam taksi beberapa tukang pukul yang sedang menjaga salah satu gedung. Kami pun berteriak, "NO! we want to go to Pat Pong two! shopping!" Supir taksi pun kesal dan melajukan kendaraannya menuju Night market Pat pong. Kami pun tiba di pusat keramaian Surawong road. Sesampainya di sana, kami mulai berjalan-jalan dan berhenti di sebuah toko tas, Naraya. Sepertinya uang kami tak pernah bisa habis, sebagian besar teman kami mulai belanja lagi. Cukup lama saya dan dua orang teman pria menunggu di luar toko. Hampir 30 menit dan mereka belum selesai berbelanja. Saya pun berniat menyusul mereka dan masuk dalam toko. Niat awal saya adalah menyuruh mereka segera memutuskan tas mana yang akan mereka beli karena malam kian larut. Tak disangka saya pun tergoda membeli sebuah tas (dasar perempuan hahaha) dan akhirnya mereka semua menunggu saya selesai membayar (saya jadi keluar yang terakhir). Barang bawaan kami pun semakin banyak. Kami pun berjalan menyusuri pasar malam, melewati setiap calo yang menawarkan show. Kami ingin mencari sebuah tempat show yang bernama Super Pussy yang sebelumnya kami lihat di internet. Semua jalanan te;ah kami lewati dan kami tak menemukannya. Akhirnya kami singgah untuk makan malam terlebih dahulu. Cukup kenyang, kami mulai mencari lagi, dan kali ini kami menemukannya, seorang calo menawrkan kami, dengan iming-iming hanya 100 baht untuk menonton. Kami berlima pun masuk ( seorang teman kami menolak untuk melihat). Sesampainya di lantai dua, terdapat sebuah panggung kecil dan ada beberapa tiang (seperti di film film striptease). Di panggung tersebut terdapat beberapa wanita yang menari mengikuti irama musik yang tak jelas di kuping. Ada seorang wanita saat itu yang sedang memeragakan menusuk balon dengan jarum menggunakan alat kelaminnya. Sebentar kami duduk, datanglah seorang ibu-ibu sekitar 50 tahun yang menawarkan minuman. Bukan menawarkan namun terlebih seperti memaksa kami. Harga minuman yang ditawarkan adalah 500 baht. Kami pun menolak dan mengatakan bahwa pria di luar tadi menawarkan tiket masuk hanya 100 baht ( calo tadi yang di luar), namun si ibu entah paham akana bahasa Inggris atau tidak di tengah kebisingan lagu tetap memaksa kami mengeluarkan 500 baht per orang. Dengan muka apatis dan menolak, akhirnya dia mengatakan "okay for five all of you, you give me 1500 baht and you can watch the show as long as you want and free drink." Dengan sisa-sisa baht kami, kami pun mengeluarkan uang kami. Minuman pun datang (kami memesan coca cola kaleng) dan sebisa mungkin kami meminumnya sesedikit mungkin. Setiap 15 menit sekali, seorang wanita paruh baya memeriksa minuman kami. Bila ada minuman yang habis, maka kami harus memesan lagi ( 300 baht lagi). Dan hampir setiap 20 menit sekali seorang wanita berbaju minim menyodorkan kotak tips. Selama 1 jam kami duduk disana, saya dan teman-teman sudah disodorkan 3 kali kotak tips. Karena sudah tak ada uang lagi, kami pun menolak memberikan tips. Pertunjukkan yang ditampilkan tidak seseru yang saya bayangkan. pertunjukkan pertama yang kami lihat adalah, menusuk balon dengan jarum, lalu menulis "welcome to Thailand", mengeluarkan pita kertas sepanjang hampir 2 meter dari lubang alat kelamin mereka, meniup peluit serta terompet, mengeluarkan silet dan membuka botol. Yang melakukan semuanya wanita. Kebanyakan berusia paruh baya dan tidak menarik dipandang mata. Saat pertunjukkan kembali ke awal pertama kali masuk, kami pun berniat keluar dan pulang ke hotel.
Sesampainya di hotel, kerja bakti untuk membereskan semua belanjaan kami ke dalam koper dimulai. Kami selesai sekitar pukul 2 pagi dini hari. Pesawat kami akan lepas landas pukul 10 pagi esok hari.
Lapaaarrr...!!! Kami semua bisa dibilang melewatkan makan siang, terakhir kami makan pagi pun sekitar jam 8 pagi. Waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 waktu setempat. Rencananya kami akan makan seafood pada hari ini. Sebuah restoran terkenal yang selalu ramai, dan selalu dipenuhi oleh turis, Somboon Seafood Restaurant. Untuk menuju ke sana, kami meutuskan untuk naik taksi. Setelah beberapa kali memanggil taksi (taksi di daerah wisata selalu borongan) kami akhirnya mendapatkan taksi yang dengan harga borongan lebih masuk akal. Nekad, kami semua memasuki taksi, dengan posisi empat orang di belakang dan dua orang di depan. Kalau dipikir-pikir taksi di Jakarta mana mau mengangkut enam orang sekaligus, dengan posisi dua orang di depan.
Setengah jam kemudian kami tiba di Somboon pusat di jalan Surawong. Akhirnya kami bisa bernapas lega, lepas dari kesesakan akibat kekurangan oksigen di dalam taksi, hahaha...
![]() |
| Somboon Seafood di Surawong road Courtesy : www.Somboonseafood.com |
Segera kami memasuki restaurant dan memesan makanan, KALAP!!! Kami memesan 2 porsi Curry crab, ! porsi oyster with egg, 1 porsi kangkung cah bawang putih, 1 porsi udang bakar, 1 porsi udang goreng garing dengan bawang putih, 1 porsi Ikan with basil leaf. Sebenarnay masih ada beberapa menu lagi namun saya lupa, dan saking kelaparannya kami satu pun tak ada yang memotret makanan yang kami pesan. Saat makanan datang, langsung habis diserbu oleh manusia-manusia yang kelaparan ini. Maafkan kami, hahaha.
![]() |
| Curry crab, Courtesy: www.catandnat.com |
Segera kami membayar tagihan pesanan kami dan melanjutkan perjalanan, karena masih pukul 7 malam, ada perubahan rencana. Malam ini rencana awal kami adalah melihat Thai Girl Show, namun karena masih pagi maka kami sepakat memutuskan untuk menukar jadwal. Selanjutnya kami meutuskan untuk mengunjungi pasar malam Asiatique di River front. Mencari taksi saat rush hour cukup sulit, dan daerah situ jauh dari BTS station. Cukup lama akhirnya kami mendapatkan sebuah taksi. Namun kali ini tidak semua dari kami naik satu taksi seperti tadi sore, karena itu saya mencari sebuah tkasi lagi. Perjalanan macet dan semua taksi yang lewat penuh. Saya dan dua orang teman memutuskan berjalan kaki hingga mendapatkan taksi. Lima belas menit berjalan kaki akhirnya kami bisa mendapatkan taksi.
Setibanya di Asiatique, kami berpisah. Masing-masing mencari kebutuhannya sendiri-sendiri, ada yang mencari souvenir untuk oleh-oleh, ada yang melihat-lihat, semua kebutuhan berbeda. Asiatique Night Market merupakan pengisi kekosongan setelah pasar malam Lumpini tutup. Asiatique dibuka sejak Mei 2012. Merupakan pasar malam yang menggabungkan gaya hidup dan fashion, harga yang ditawarkan cukup mahal dibandingkan pasar malam lainnya. Di sini terdapat kompleks untuk berbelanja, ada sekitar 1500 toko yang berpartisipasi mulai dari toko yang menjual pakaian, souvenir, sabun, handicraft, bahkan sampai ke furniture. Terdapat dua teater yang ikut memeriahkan Asiatique. Calypso theather dan Joe Louis Puppet theather. Sayangnya kami tidak ada yang sempat melihat pertunjukkan tersebut. Setelah puas berkeliling dan membeli beberapa souvenir untuk dibagikan ke teman-teman di Jakarta, kami berkumpul kembali dan kembali ke hotel. Dalam perjalanan pulang terjadilah insiden 'berdarah' yang sayang sekali tidak dapat saya tuliskan di sini. Kami pun tiba di hotel dalam keadaan capai dan penat.
Hari ke -5, 21 Nov
Kami berencana menuju ke Madam Tussaud yang terletak di Siam Discovery, tiket online sudah di tangan. Hanya empat orang diantara kami yang menuju ke sana, dua orang lainnya akan menyusul.
Tidak ada antrian saat disana, karena kami membeli tiket sebelum jam 12 siang, sehingga tidak begitu ramai dan lagi harganya lebih murah. Yang kami lakukan disana hanya berfoto. Tak ada yang dapat diceritakan lebih lanjut.
Sepulangnya dari Madam Tussaud kami pun makan siang di Siam Paragon, menu makan siang saya kali ini adalah Sirloin Pork with sticky rice. Rasanya unik, asam, asin dan gurih dengan nasi ketan hangat. Unforgetable tastes and drooling now while typing about it. Damn! Sayang sekali saya lupa nama restaurant yang saya singgahi saat itu. Tak sempat berkeliling di Siam Paragon, hanya sempat mengunjungi Gourmet Market (supermarket) dan membeli beberapa kebutuhan salah satunya sosis. Sosis di sana entah mengapa saya suka. Saya dan beberapa teman membelinya. Mengejar rencana berikutnya, maka kami segera kembali ke hotel. Mandi serta bersiap-siap untuk dinner di kapal cruise. Kapal cruise yang kami pesan adalah Chao Phraya Princess Cruise. Travel akan menjemput kami pukul 6 sore di Grand terminal 21 hotel lobby. Mereka tidak dapat menjemput kami di hotel karena daerah penjemputannya tidak mencapai daerah hotel kami. Sebenarnya Grand terminal 21 tidak begitu jauh, hanya saja karena sore itu merupakan rush hour sehingga traffic jam menjadi alasan mengapa kami terlambat. Sekeluarnya dari hotel, kami melihat jalanan tidak cukup padat sehingga memutuskan utnuk naik taksi. Taksi pertama membawa tiga orang teman kami. Saya dan kedua teman lainnya menunggu taksi kedua. Lima menit kemudian kami mendapatkan taksi. Hanya berjarak beberapa meter dari tempat kami menunggu taksi, tiba-tiba jalanan mulai padat dan macet. hampir 30 menit kami hanya maju bergerak tidak terlalu jauh. Akhirnya kami memutuskan untuk berjalan kaki, Grand Termoinal 21 hanya berjarak 2 hingga 3 kilometer didepan kami. Sembari jalan saya mencoba menelpon agen travel yang menjemput mecoba negosiasi untuk menunggu kami, karena kami akan terlambat namun wanita di seberang telepon mengatakan bahwa supir akan menunggu sekitar lima menit saja. Cukup panik, kami bertiga ( tiga teman kami lainnya masih berada di taksi pertama) berjalan setengah berlari, menyebrang jalan meski lampu untuk menyebrang masih merah (Jangan DITIRU!!!). Saat menyebrang saya mendengar seorang bule berkata kepada temannya " they're bad tourist!" (damn! hahaha karena kami menyebrang tanpa mengikuti peraturan yang ada). Hampir pingsan, penuh keringat kami sampai di lobby hotel Grand terminal 21. Supir sudah menunggu dan kami memberitahu bahwa ketiga teman lainnya masih dalam perjalanan. Kira-kira 10 menit kemudian mereka tiba. Mereka ternyata turun dari taksi dan menyebrang ke sini dengan berjalan kaki. Cukup lega, karena kami tidak ditinggalkan...
Tiba di riverfront, kami masih menunggu untuk kedatangan kapal cruise kami. sekitar 30 menit menunggu akhirnya kapal cruise kami datang.
![]() |
| our cruise ship is coming... Finally! |
Meja kami di atas dek. Saya memilih upper deck karena lebih hidup suasananya dibandingkan dengan lower deck. Lower deck terlihat seperti fine dining yang serius dan membosankan. Makanan yang berlimpah ruah cukup untuk mengisi perut yang keroncongan ini akibat lari dan serangan panik tadi. Setelah kapal berjalan maka penumpang mulai dipersilahkan untuk mengambil makanan. Antrian yang panjang saat mengambil makanan terjadi. Sembari mengantri saya mencoba melihat menu apa saja yang tersedia. Mulai dari western food, thai food, indian food. Cukup beraneka ragam. Ada beberapa menu yang cukup menggugah selera. Sembari makan, kamipun menikmati pemandangan sungai Chao phraya. Terlihat gemerlapnya Wat Arun dalam cahaya lampu, Grand palace yang megah dalam keheningan malam. Hampir dua jam tak terasa, setelah memutari sungai Chao phraya sembari makan malam, mendengar live music dan berfoto kami harus kembali turun ke darat. Mobil travel sudah menunggu dan kami kembali di antar ke grand terminal 21 serta selebihnya kami kembali ke hotel dengan BTS.
![]() |
| our table at Upper deck |
Hari ke -6, 20 Nov
Hari ini adalah yang di tunggu-tunggu!!! SHOPPING DAY. Keluar dari hotel sekitar pukul 10 pagi menuju ke Pratunam area, meeting point kami adalah di hotel indra regent. Bertemu di hotel indra regent kami segera membeli berbagai cemilan dan oleh-oleh berupa makanan khas Thailand. Durian chips, Tamarine dan lain lain. Dalam waktu satu jam tangan kami sudah penuh dengan berbagai oleh-oleh makanan, Akhirnya tiga orang akan pulang dan menaruh belanjaan di hotel lalu kembali kemari. Sambil menunggu mereka datang, saya dan teman yang lain berjalan-jalan di Indra square. Tak lama kemudian mereka datang, dan kami berjalan kaki menuju daerah Makasaan untuk makan siang di sana. Restoran ini cukup enak. Ayah saya yang merekomendasikannya. T seafood. tak jauh bila ditempuh dengan berjalan kaki, sekitar 15 menit. Sesampainya di sana, kami memesan beberapa menu. Curry crab, oyster omelet, cumi lada garam, Tom yam seafood, kailan cah bawang putih, dan lain-lain (saya tidak ingat semua). Kali ini kami dalam keadaan lapar yang normal sehingga kami tidak memakan dengan rakus *blushing
Selanjutnya yang sudah kami semua tunggu-tunggu adalah Shopping to Platinum. Bangga dapat mengklaim tempat ini sebagai pusat shopping terbesar di Thailand, Platinum terletak di jalan phetchaburi d\persis di seberang komplek Pratu nam. Jam di tangan sudah menunjukkan pukul 2 siang, masih ada empat jam untuk berburu barang-barang murah yang bagus. Di sini terdapat pusat pakaian, tas, sepatu, aksesoris dll. TErbagi menjadi 3 zona yang hampir semuanya terdiri dari pakaian wanita (karena kaum hawa lah yang paling sering mengunjungi tempat ini). Untuk para pria disediakan hanya 1 lantai di Zona 2.
Kami berpencar, dan dalam waktu empat jam kami rata-rata telah menghabiskan uang sekitar 1 juta rupiah namun barang yang kami bawa pulang cukup banyak. Rata-rata pakaian wanita berkisar 200-500 baht saja. Salah seorang teman saya sudah memborong pulang 20 pakaian. Saya sendiri berbelanja sekitar 10 potong. Sayangnya pembeli dilarang mencoba pakaian yang akan dibeli, bahkan untuk mencoba dengan memakai pakaian lengkap pun tidak diperbolehkan. Untuk fitting room terdapat di toilet.JAdi bermodalkan kira-kira saja, saya nekad membeli. Masalah muat atau tidaknya urusan belakangan. Tak terasa waktu bergerak begitu cepat, toko-toko mulai tutup dan kami terpaksa pulang. Selanjtnya dengan membawa barang belanjaan kami pun menuju ke Pat pong red district. Tujuan utama kami adalah ingin melihat Ping Pong show ( thai girl show), saat menyebutkan tujuan kami, sang supir taksi bertanya " your pat pong is pat pong one or pat pong two? do you want to see show or shopping?" Sebelumnya saya mencari tahu di google tentang show ini. Seorang blgger menyebutkan bila supir tkasi bertanya Patpong one or two? jawab saja two. Akhirnya saya menjawab "shopping". Namun, seorang teman kami bertanya lebih jauh tentang show yang sang supir tawarkan. Akhirnya sang supir pun menawarkan untuk melihat show hanya dengan 1000 baht dan memberhentikan taksinya di sebuah kompleks ruko yang gelap. Terlihat dari dalam taksi beberapa tukang pukul yang sedang menjaga salah satu gedung. Kami pun berteriak, "NO! we want to go to Pat Pong two! shopping!" Supir taksi pun kesal dan melajukan kendaraannya menuju Night market Pat pong. Kami pun tiba di pusat keramaian Surawong road. Sesampainya di sana, kami mulai berjalan-jalan dan berhenti di sebuah toko tas, Naraya. Sepertinya uang kami tak pernah bisa habis, sebagian besar teman kami mulai belanja lagi. Cukup lama saya dan dua orang teman pria menunggu di luar toko. Hampir 30 menit dan mereka belum selesai berbelanja. Saya pun berniat menyusul mereka dan masuk dalam toko. Niat awal saya adalah menyuruh mereka segera memutuskan tas mana yang akan mereka beli karena malam kian larut. Tak disangka saya pun tergoda membeli sebuah tas (dasar perempuan hahaha) dan akhirnya mereka semua menunggu saya selesai membayar (saya jadi keluar yang terakhir). Barang bawaan kami pun semakin banyak. Kami pun berjalan menyusuri pasar malam, melewati setiap calo yang menawarkan show. Kami ingin mencari sebuah tempat show yang bernama Super Pussy yang sebelumnya kami lihat di internet. Semua jalanan te;ah kami lewati dan kami tak menemukannya. Akhirnya kami singgah untuk makan malam terlebih dahulu. Cukup kenyang, kami mulai mencari lagi, dan kali ini kami menemukannya, seorang calo menawrkan kami, dengan iming-iming hanya 100 baht untuk menonton. Kami berlima pun masuk ( seorang teman kami menolak untuk melihat). Sesampainya di lantai dua, terdapat sebuah panggung kecil dan ada beberapa tiang (seperti di film film striptease). Di panggung tersebut terdapat beberapa wanita yang menari mengikuti irama musik yang tak jelas di kuping. Ada seorang wanita saat itu yang sedang memeragakan menusuk balon dengan jarum menggunakan alat kelaminnya. Sebentar kami duduk, datanglah seorang ibu-ibu sekitar 50 tahun yang menawarkan minuman. Bukan menawarkan namun terlebih seperti memaksa kami. Harga minuman yang ditawarkan adalah 500 baht. Kami pun menolak dan mengatakan bahwa pria di luar tadi menawarkan tiket masuk hanya 100 baht ( calo tadi yang di luar), namun si ibu entah paham akana bahasa Inggris atau tidak di tengah kebisingan lagu tetap memaksa kami mengeluarkan 500 baht per orang. Dengan muka apatis dan menolak, akhirnya dia mengatakan "okay for five all of you, you give me 1500 baht and you can watch the show as long as you want and free drink." Dengan sisa-sisa baht kami, kami pun mengeluarkan uang kami. Minuman pun datang (kami memesan coca cola kaleng) dan sebisa mungkin kami meminumnya sesedikit mungkin. Setiap 15 menit sekali, seorang wanita paruh baya memeriksa minuman kami. Bila ada minuman yang habis, maka kami harus memesan lagi ( 300 baht lagi). Dan hampir setiap 20 menit sekali seorang wanita berbaju minim menyodorkan kotak tips. Selama 1 jam kami duduk disana, saya dan teman-teman sudah disodorkan 3 kali kotak tips. Karena sudah tak ada uang lagi, kami pun menolak memberikan tips. Pertunjukkan yang ditampilkan tidak seseru yang saya bayangkan. pertunjukkan pertama yang kami lihat adalah, menusuk balon dengan jarum, lalu menulis "welcome to Thailand", mengeluarkan pita kertas sepanjang hampir 2 meter dari lubang alat kelamin mereka, meniup peluit serta terompet, mengeluarkan silet dan membuka botol. Yang melakukan semuanya wanita. Kebanyakan berusia paruh baya dan tidak menarik dipandang mata. Saat pertunjukkan kembali ke awal pertama kali masuk, kami pun berniat keluar dan pulang ke hotel.
![]() |
| source: www. crystalphuong.net |
Pagi-pagi kami pun bangun dan segera berkemas untuk kembali ke Jakarta.
ลาก่อน Thailand ...
ลาก่อน Thailand ...











Tidak ada komentar:
Posting Komentar