Rabu, 04 Desember 2013

Amazing Holiday at Amazing Thailand (part 1)

Amazing Holiday

Setelah sekian lama tidak menulis kisah perjalanan saya di blog ini, kini saya akan menuliskannya kembali . Ada beberapa perjalanan yang belum saya sempat tulis namun akan saya akan usahakan untuk menuangkannya di blog ini. 

Hari pertama 17 nov, 
Kami berangkat dini hari untuk mengejar pesawat yg berangkat pk 07.00, beberapa teman kami sudah tiba di Bandara Soekarno - hatta. Kami segera check in counter dan melalui pemeriksaan imigrasi dan siap menunggu di Gate yang telah di tentukan. Empat jam kemudian kami tiba di Bandara Suvarnabhumi, Bangkok. Secepatnya kami mengambil barang bawaan kami dan mencari Free shuttle bus menuju Badnara Don Mueang. Kami bertanya pada petugas setempat dimana letak free shuttle bus menuju Don Mueang? mereka menjawab " at exit gate 3". kami kesana lalu menunjukkan tiket kami yang menuju Chiang Mai. 
Perjalanan menuju Don mueang kira2 50 menit hingga 90 menit bila macet. Lucky us there's no traffic jam for that moment. Kami tiba dalam 50 menit perjalanan. Tiba disana, kami mencari food court untuk mengisi kekosongan perut. Mencoba makan di Taurus Food court di lantai 3, pelayan yang melayani cukup unik. Mereka adalah transgender Thailand. Sedikit bisa dan mengerti bahasa Inggris, dia melayani kami dengan mencatat pesanan menu yang kami tunjuk. Harga menu cukup menguras kantong. Salah satu teman berceletuk, "katanya makanan di Thailand murah, ini kok mahal banget?" Jelas saja mahal, ini kan di airport. Pesanan kami pun datang, rasanya standard, beberapa teman merasa kecewa. Udah mahal, rasanya ga sesuai harga. 
Setelah selesai makan, kami menuju check in counter dan disana beberapa wanita mengenakan seragam dan memberikan kepada setiap penumpang yang akan check in sebuah batok kelapa yang didalamnya terdapat lilin yang diukir menyerupai bunga. Hari itu merupaka Festival Loy Krathong, dimana setiap penduduk Thailand maupun turis yang berkunjung dapat menaruh benda tersebut di sungai.












Perjalanan ke Chiang Mai dengan domestic flight sekitar 60 menit. Kami sampai di Chiang Mai sekitar 17.30 waktu setempat. Segera menuju ke hotel, mengurus kamar dan meletakkan barang2. lalu kami semua berjalan menuju tempat festival Yi Peeng. Yi peeng festival merupakan salah satu tujuan utama kami. setibanya di jembatan, keadaan sudah ramai, sudah banyak khom loi ( lentera terbang) yang menghiasi langit. Very beautiful.

very crowded

mulai menyalakan api di khom loi
Kami segera membeli khom loi, membakarnya dan menunggu sampai uap di dalam khom loi cukup untuk menerbangkannya. sembari menunggu khom loi siap terbang, kami berfoto ria.
khom loi pertama terbang dengan indahnya. Menghiasi langit Chiang Mai malam itu. 
Kami pun bergantian menerbangkan khom loi dan berfoto, bahkan meminta beberapa turis lain untuk memfoto kami.
sebelum melepaskan lentera





Puas melihat festival Yi Peeng dan menerbangkan khom loi (kami menerbangkan 4 khom loi hari itu), lalu kamipun membeli krathong untuk kami alirkan di sungai. Pinggir sungai sangat padat dengan pengunjung yang melihat Loy Krathong. Menemukan sedikit celah, kami pun segera menyalakan korek api dan membakar dupa serta mengalirkannya ke sungai. Angin saat itu bertiup agak kencang jadi kami harus berusaha kuat agar lilin tidak mati. Cukup sulit untuk mempertahankan agar lilin terus menyala. Seorang teman kami menyerah dan membiarkan krathongnya mengalir tanpa lilin yang menyala.

Loy Krathong













Puas dengan Loy Krathong, kami berjalan menuju pasar malam, mencoba berbagai makanan pinggiran disana. Pertama-tama kami mencoba kelapa. Enak! dan murah, hanya 20 Baht ( sekitar 7500 rupiah) lalu berjalan serta menemukan cemilan lain. Mirip kue cubit yang kita kenal tapi berbahan dasar santan dan rasanya gurih serta manis. Lalu mencoba daging ayam yang di beri bumbu pedas, rasanya enak. Perut mulai terisi penuh dengan berbagai cemilan pasar, tapi beberapa teman kami masi merasa lapar, dan dalam perjalanan menuju ke hotel kami berhenti dan makan di restoran mie.

mie yang kami tak tahu namanya, tapi rasanya enak dan murah !

Kami pun berjalan ke hotel untuk beristirahat. Besok pagi kami akan meneruskan perjalanan menuju Chiang Rai.

Hari ke-2 18 nov,
Setelah breakfast kamipun dijemput oleh travel dan menuju Chiang Rai. Peserta perjalanan ini adalah 13 orang ( kami 6 orang, 3 orang china, 2 orang Italy dan 2 orang Amerika). Tujuan pertama kami adalah Hot Spring Chiang Rai. Berfoto sebentar disana, air yang keluar dari dalam tanah dan rasanya hangat. Banyak penjual yang menjajakan telur. dengan merendam kaki para turis sembari merebus telur. Patut dicoba, sayangnya Travel kami hanya memberikan waktu 15 menit disana.


Perjalanan selanjutnya menuju White Temple, inipun merupakan tujuan utama kami. mebutuhkan waktu kira2 50 menit dari kota Chiang Rai. Jalanan menuju ke sana cukup berkelok-kelok dan membuat salah satu teman mabuk darat. Setelah melalui perjalanan yang cukup menyiksa, kami pun tiba di White temple (wat rong khun). White temple ini merupakan kuil Budhis yang lain daripada kebanyakan kuil di Thailand. Dibangun sejak 1997 oleh seorang seniman yang bernama Chalermchai Kosipitpat. Di dalam kuil ini terdapat lukisan dinding mengenai nirwana dan neraka. Sampai saat ini lukisan tersebut belum selesai, bahkan sang seniman sendiripun tak mengetahui kapan lukisan beserta kuil ini akan selesai.

White temple
Perjalanan kami selanjutnya menuju golden triangle, dimana kami akan menyebrang menuju Laos tanpa memerlukan visa. Mengapa disebut sebagai Golden Triangle? Hal ini dikarenakan sebelum abad 21, ketiga negara yang membentuk Golden traingle tersebut ( Burma /Myanmar, Laos dan Thailand) adalah penghasil terbesar opium. Luas Golden Triangle mencapai 950.000km2. Golden Triangle ini dilewati oleh dua sungai yakni Sungai Mekong dan Sungai Ruak. Menurut pemandu wisata kami, bila kita menyusuri sungai Mekong terus menerus, kami akan tiba di Yunan, China. Setelah menyebrangi Sungai Mekong menuju Laos, kamipun tiba di negara Laos, di desa kecil yang kami tak tahu apa namanya.
tiba di Laos
Whisky Tokek
Penduduk desa tersebut menjual Snake whisky, dan beberapa minuman keras lainnya. Di dalam botol2 whisky tersebut, terdapat berbagai macam binatang mulai dari ular, tokek, kalajengking (scorpion), ginseng bahkan sampai penis harimau. Whisky yang mereka jual, sangat keras sehingga dapat sekaligus menjadi pengawet layaknya formalin. Saya dan beberapa teman mencoba Whisky Ginseng. Rasanya amat sangat panas di kerongkongan. Bagi penggemar minuman beralkohol, ini layak dicoba.
Snake Whisky














Kami pun melanjutkan perjalanan, menuju perbatasan Myanmar dan Thailand. The northest point of Thailand. Namun, berbeda dengan Laos, bila kami ingin pergi ke Myanmar kami harus mengajukan visa dan biayanya sekitar 500 baht. Kami menuju tempat yang disebut Mae Sai border gate. Kami hanya sebentar disana. Sekitar kami merupakan penjual yang menjajakan barang dagangan yang kebanyakan berasal dari China.
salah satu remaja suku Karen long neck
Kamipun segera melanjutkan perjalanan, menuju desa Karen Long neck. dimana penduduknya mengenakan kalung seberat 4 hingga 5 kg di lehernya. Mereka percaya bahwa semakin panjang leher mereka akan terlihat semakin cantik. Perjalanan kami membutuhkan waktu 45 menit menuju desa tersebut. Long Neck Karen Hilltribe merupakan pelarian dari Burma. Mereka menetap di Thailand dan pihak Thailand menjadikan mereka sebagai salah satu atraksi untuk menangkap minat turis-turis asing. Desa mereka kebanyakan menjual scarf, tas , pajangan serta souvenir yang harganya relatif lebih mahal daripada di pasar. Kebanyakan remaja dan penduduk disana bekerja sebagai pembuat scarf. Setiap rumah memiliki toko tersendiri. Bila salah satu dari mereka pergi ke kota, maka mereka akan melepas kalung mereka dan menutupi leher mereka dengan scarf. Kalung tersebut tidak selalu mereka pakai, kadang sesekali dapat dilepas. Namun kebanyakan mereka memakainya hampir setiap saat bahkan saat tidur dan mandi.
Sebenarnya leher panjang mereka merupakan ilusi optik semata. Kalung tersebut mendesak bahu sehingga bahu mereka lebih turun, dan memperlihatkan seolah-olah leher mereka memanjang. Mitos mengatakan bila mereka melepas kalung yang melingkari leher mereka maka mereka akan mati, namun hal tersebut dibuktikan dengan beberapa foto dokumentasi para gadis remaja yang sedang berfoto ria tanpa kalung mereka, dan mereka tidak mati karena tidak ada penyangga pada lehernya.
oh iya, penduduk yang mengenakan kalung tersebut hanya para wanita, dimulai saat berusia tiga tahun.
Kami pun kembali ke Chiang Mai, dan saat itu hujan deras mengguyur perjalanan pulang kami. Hal itu menyebabkan kami menghabiskan sisa malam hanya berada di hotel.

Hari ke-3, 19 Nov
Pagi harinya kamipun mengambil one day trip di sekitar Chiang Mai. Kami menuju Doi Inthanon National Park. Tujuan pertama kami adalah Wachiratan Waterfall, merupakan air terjun kedua terbesar di National Park Doi Inthanon. Cukup bagus, namun sayang kami datang saat cuaca berawan. Bila cuaca cerah, kami akan melihat pelangi di bagian bawah air terjun. Sekitar 30 menit kami menikmati suasana disana, berfoto ria dan sedikit membeli camilan kami pun kembali ke mini bus dan melanjutkan perjalanan.
Selanjutnya kami berhenti di Siritharn Waterfall, air terjun kedua yang kami datangi. Tidak sebagus Wachirathan, Siritharn waterfall memiliki ketinggian sekitar 40 m.
sirithan waterfall
Kami hanya melihat dari kejauhan. berfoto sebentar lalu menuju ke The summit of Doi inthanon. Menuju ke titik tertinggi dari Thailand, kami menuju puncak Doi inthanon (2556 meter dari permukaan laut). Cuaca saat itu cukup dingin, sekitar 15 derajat. Dikabarkan bahwa bila musim dingin tiba (winter season) maka suhu di Doi inthanon dapat mencapai -3 derajat celsius. Kami melakukan trekking kecil-kecilan melalui jalan setapak sembari melihat pemandangan hutan hijau di sekeliling kami.













Tak lama sesudahnya kami menuju Pagoda raja dan ratu (The King's and Queen's Pagoda). Pagoda ini dibangun untuk memperingati ulang tahun pernikahan mereka yang ke - 60 tahun. di belakang Queen's pagoda terdapat taman bunga yang cukup indah. Sekali lagi sayang, cuaca kurang mendukung. selain gerimis terdapat juga kabut yang cukup tebal, sehingga mengurangi keindahan pagoda dan hasil foto kami.
kabut menutupi the King's Pagoda

Perjalanan kami hari ini telah selesai dan saat mencapai kota Chiang Mai, kami meminta agar diturunkan di dekat Night bazaar agar kami dapat mecoba Thai massage di daerah sekitar sebelum meninggalkan Chiang Mai malam ini.
Diturunkan dekat kota kamipun kebingungan memilih tempat pijat yang cukup menjanjikan, karena disekitar daerah itu terdapat begitu banyak tempat pijat. Tak lama kemudian kami pun mendatangi salah satunya. Kami berlima mecoba Thai massage dan seorang teman kami mencoba foot massage. Kami berlima ditempatkan disebuah ruangan, setelah mengganti pakaian akmi dengan pakaian longgar yang telah disediakan, lima orang wanita pemijat datang. Gerakan pijatpun dimulai. Bagi yang mudah merasa geli, saya sarankan agar jangan memilih Thai massage! Pijatan mereka dimulai dari paha bagian dalam dan lebih menekankan tekanan serta tarikan. Salah satu teman kami menjerit dan berteriak sepanjang sesi memijat berlangsung. Entah karena kesakitan atau geli, namun menurut kami cukup untuk menghilangkan sedikit kepenatan. Kami pun bergegas mencari makan malam di Night bazaar dan secepatnya kembali ke hotel. Kami pun mengambil inisiatif untuk menggunakan jasa red car (angkot merah) untuk kembali ke hotel, biaya seorang sekitar 20 baht. Setibanya di hotel, saya mencoba berbicara kepada sopir untuk membawa kami beserta koper-koper kami menuju terminal bis. Kami akan menaiki bis malam menuju Bangkok. Sang supir akhirnya setuju dengan bayaran 120 baht ( tetap 20 baht seorang) untuk membawa kami menuju terminal. Kami di turunkan di terminal bis  chiang mai yang lama ( terminal bis di chiang mai ada dua, lama dan baru). Ternyata setelah bertanya kepada petugas terminal disana, kami salah terminal. Bis yang kami akan naiki tidak ada di terminal tersebut. Kami harus menyebrang dan menuju terminal bis yang dimaksud. Saat itu hujan turun dan cukup deras. Enam turis Indonesia menyebrang dengan membawa koper besar serta payung bukanlah pemandangan yang cukup indah. Kami pun tiba di terminal Nakhonchai. setelah yakin bahwa ini terminal yang benar, maka kami semua lega dan menunggu bis kami datang dan membawa kami semua ke Bangkok meninggalkan kota Chiang Mai.
source:http://www.tolo-thailand.com/sites/default/files/styles/tolomediumpic/public/nca.jpg?itok=tXhixqqQ



3 komentar:

  1. waahh itu beneran ada yaa minuman dr kalajengking gitu?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyah beneran.. bahkan ada yg dari penis harimau. Tapi ga ada yg berani coba minum

      Hapus
  2. Oyah ekstrim banget! Dan panas banget di tenggorokan.. penjualnya bilang kalau di masukkan itu menambah alkohol di dalamnya.. dan dipercaya dapat meningkatkan stamina terutama bagi pria hahahah

    BalasHapus