Kamis, 19 Desember 2013
NEXT Trip...Desember 2013
مرحبا
Can't wait to write my next trip at this blog.
Liburan selanjutnya akan saya tulis segera setelah kembali ke Jakarta.
Perjalanan selanjutnya adalah Arabian Night... Menuju ke belahan bumi yang berpadang pasir, hotel termegah dan tertinggi di dunia, kembali mengenang masa lalu dengan mengunjungi kota tua yang kini menjadi puing belaka, mengunjungi pemandangan alam yang layaknya menggambarkan keindahan Sang Pencipta, tak sabar rasanya mengalami hal tersebut.
Semoga perjalanan berikutnya akan menjadi perjalanan yang cukup menyenangkan.
Amazing holiday at Amazing Thailand (part 2)
NEXT DESTINATION IS ... BANGKOK!!!
hari ke-4, 19 nov
Tak lama kemudian kami tiba di Grand palace, berjalan sedikit menuju pintu masuk. Bangunan pertama kali yang kami temui adalah museum tekstil Ratu, kami berencana akan mengunjunginya nanti. Sesampainya di loket, dan membeli tiket masuk ( untuk penduduk Thailand gratis, dan untuk turis asing dikenakan biaya 500 baht) kami pun mulai berfoto dan memasuki bangunan-bangunan megah di dalam komplek istana.
Cuaca saat itu amat panas, belum lagi tepat pk 12 siang kami sampai di Grand Palace. Bangunan pertama yang kami masuki adalah Emerald Budha, sebelum memasuki wihara kami harus melepas alas kaki terlebih dahulu. Sayang sekali dilarang memotret di dalam wihara. Emerald Budha yang dimaksud berada di tengah altar, tidak besar berukuran sedang, dan ditempatkan lebih tinggi sehingga para turis dan yang ingin bersembahyang dapat melihat cukup jelas. Tak lama kemudian kami berjalan dan mencari objek untuk berfoto.
Panas, capek, haus, itulah yang kami rasakan sehingga banyak dari kami tidak begitu berminat melihat-lihat lagi, Selagi mecari pintu keluar, kami menyempatkan diri melihat museum tekstil sang ratu yang kami jumpai saat pertama kali masuk.
Salah seorang teman kami mencoba mengenakan pakaian tradisional Thailand secara cuma-cuma.
Dekorasinya cukup unik, ruangan dengan penyejuk udara yang dapat membuat kami semua yang lelah dan kepanasan ini beristirahat sejenak. Kami kemudian naik ke lantai dua, di sana terdapat pameran pakaian ratu yang sejak beliau muda hingga sekarang. Pakaian yang dipamerkan amat sangat bagus. Desain dan bahan yang digunakan merupakan bahan terbaik. Mulai dari pakaian saat menghadiri pertemuan dunia seperti PBB, hingga pertemuan nasional di Thailand. Sayang sekali dilarang memotret didalam museum, terutama ruangan yang memamerkan pakaian sang Ratu. Cukup puas melihat koleksi busana sang Ratu kamipun kembali mencari pintu keluar dan meninggalkan Grand Palace.
Perjalanan selanjutnya menuju Wat Pho, untuk melihat reclining Budha ( Budha tidur raksasa). Keluar dari Grand palace, kami pun berjalan kaki menyusuri komplek istana dari luar, lalu menyebrang dan belok kanan. Tak jauh dari Grnad Palace itulah Wat Pho berada. Tiba di Wat Pho, kami harus membeli tiket masuk seharga 100 baht per orang. Tujuan utama kami ke Wat pho adalah ingin mencoba Thai massage yang terkenal di sini. Di sini terdapat sekolah pijat yang direkomendasikan banyak turis. Kami pun bertanya kepada pusat informasi dimana letak tempat pijatnya, cukup membingungkan penjelasan yang diberikan. Akhirnya setelah berkeliling, kamipun menemukan apa yang kami cari. Kami langsung mendaftar, dan ternyata giliran kami masih satu jam lagi, jadi kami memutuskan untuk berkeliling terlebih dahulu. Melihat Reclining Budha dan tempat lainnya.
hari ke-4, 19 nov
Pagi hari sekitar pukul 5 waktu setempat, bis kami sudah memasuki kota Bangkok. Kami bergegas membereskan barang-barang kami. Sesampainya di Terminal Bangkok, kami mengantri taksi menuju hotel kami di daerah Sukhumvit road soi 30. Menggunakan dua taksi, kami pun tiba di hotel. Hanya satu kamar yang tersedia untuk early check in, sehingga kami berenam berkumpul di kamar tersebut. Mandi serta bersiap-siap untuk tujuan kami selanjutnya. Sekitar pk. 10 siang, kami keluar hotel dan berjalan menuju BTS terdeat, Phrom phong BTS station. Tujuan kami hari ini adalah menuju Grand Palace, dan Wat Pho. Dari BTS Phrom phong menuju BTS Saphan Taksin membutuhkan kira-kira 30 menit, setelah berganti line di BTS Siam. Setibanya di BTS Saphan Taksin, kami harus menggunakan jasa kapal untuk tiba ke Grand Palace. Grand Palace terletak di Ratanakossin Island. di kelilingi oleh sungai Chao praya, dengan luas sekitar 280.000 meter persegi. Grand palace dibangun pada tahun 1782 oleh Raja Rama I dan hingga sekarang masih berdiri kokoh dan indah. Setelah sampai di tempat dimana kami harus turun, kamipun berjalan melewati pasar barulah dapat tiba di Grand Palace. Saat melewati pasar, beberapa dari kami, berhenti untuk mencicipi durian. Wuah, enak sekali, namun harga yang ditawarkan cukup mahal, tidak murah seperti dugaan kami. Tak terlalu beda dengan harga durian di supermarket Jakarta. Puas makan durian, dan berjalan lagi sekitar 5 meter kami berhenti lagi untuk mencicipi ketan mangga (sticky mango rice) harga yang ditawarkan murah meriah! Seporsi ketan mangga hanya 30 baht. dan porsinya cukup untuk 2 orang, jadi kami memesan 3 porsi. Rasa mangganya sedikit asam, dibandingkan dengan mangga harum manis hasil Indonesia, saya lebih suka dengan mangga harum manis :).
Tak lama kemudian kami tiba di Grand palace, berjalan sedikit menuju pintu masuk. Bangunan pertama kali yang kami temui adalah museum tekstil Ratu, kami berencana akan mengunjunginya nanti. Sesampainya di loket, dan membeli tiket masuk ( untuk penduduk Thailand gratis, dan untuk turis asing dikenakan biaya 500 baht) kami pun mulai berfoto dan memasuki bangunan-bangunan megah di dalam komplek istana.
Cuaca saat itu amat panas, belum lagi tepat pk 12 siang kami sampai di Grand Palace. Bangunan pertama yang kami masuki adalah Emerald Budha, sebelum memasuki wihara kami harus melepas alas kaki terlebih dahulu. Sayang sekali dilarang memotret di dalam wihara. Emerald Budha yang dimaksud berada di tengah altar, tidak besar berukuran sedang, dan ditempatkan lebih tinggi sehingga para turis dan yang ingin bersembahyang dapat melihat cukup jelas. Tak lama kemudian kami berjalan dan mencari objek untuk berfoto.
| wajah-wajah kecapean, dan kepanasan |
![]() |
| salah satu tulisan yang ada di pilar |
Panas, capek, haus, itulah yang kami rasakan sehingga banyak dari kami tidak begitu berminat melihat-lihat lagi, Selagi mecari pintu keluar, kami menyempatkan diri melihat museum tekstil sang ratu yang kami jumpai saat pertama kali masuk.
Salah seorang teman kami mencoba mengenakan pakaian tradisional Thailand secara cuma-cuma.
![]() |
| pakaian tradisional Thailand |
Dekorasinya cukup unik, ruangan dengan penyejuk udara yang dapat membuat kami semua yang lelah dan kepanasan ini beristirahat sejenak. Kami kemudian naik ke lantai dua, di sana terdapat pameran pakaian ratu yang sejak beliau muda hingga sekarang. Pakaian yang dipamerkan amat sangat bagus. Desain dan bahan yang digunakan merupakan bahan terbaik. Mulai dari pakaian saat menghadiri pertemuan dunia seperti PBB, hingga pertemuan nasional di Thailand. Sayang sekali dilarang memotret didalam museum, terutama ruangan yang memamerkan pakaian sang Ratu. Cukup puas melihat koleksi busana sang Ratu kamipun kembali mencari pintu keluar dan meninggalkan Grand Palace.
Perjalanan selanjutnya menuju Wat Pho, untuk melihat reclining Budha ( Budha tidur raksasa). Keluar dari Grand palace, kami pun berjalan kaki menyusuri komplek istana dari luar, lalu menyebrang dan belok kanan. Tak jauh dari Grnad Palace itulah Wat Pho berada. Tiba di Wat Pho, kami harus membeli tiket masuk seharga 100 baht per orang. Tujuan utama kami ke Wat pho adalah ingin mencoba Thai massage yang terkenal di sini. Di sini terdapat sekolah pijat yang direkomendasikan banyak turis. Kami pun bertanya kepada pusat informasi dimana letak tempat pijatnya, cukup membingungkan penjelasan yang diberikan. Akhirnya setelah berkeliling, kamipun menemukan apa yang kami cari. Kami langsung mendaftar, dan ternyata giliran kami masih satu jam lagi, jadi kami memutuskan untuk berkeliling terlebih dahulu. Melihat Reclining Budha dan tempat lainnya.
| Reclining Budha |
| Salah satu bangunan di Wat pho |
Reclining Budha memiliki tinggi15 m dan panjang sekitar 43 m dengan posisi lengan kanan menopang kepala sang Budha. Puas melihat-lihat dan berfoto, kami melihat ke bangunan lain, dan menemukan Budha yang sedak duduk dengan posisi biasa yang sering kita temui di wihara. Waktu untuk giliran Thai massage kami pun hampir tiba, sehingga kami bergegas kembali ke tempat tersebut. Tak menunggu lama kami mendapat giliran. Inti dari pemijatannya sih menurut saya sama saja, hanya saja ada beberapa teknik yang berbeda. Berbeda dengan Thai Massage yang kami coba di kota Chiang Mai, kali ini semuanya terasa pas. Setiap titik tubuh ditekan dengan tepat. Kira-kira 30 menit kemudian semuanya menampakkan wajah segar, segala kepenatan hari ini berkurang sudah.
Lapaaarrr...!!! Kami semua bisa dibilang melewatkan makan siang, terakhir kami makan pagi pun sekitar jam 8 pagi. Waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 waktu setempat. Rencananya kami akan makan seafood pada hari ini. Sebuah restoran terkenal yang selalu ramai, dan selalu dipenuhi oleh turis, Somboon Seafood Restaurant. Untuk menuju ke sana, kami meutuskan untuk naik taksi. Setelah beberapa kali memanggil taksi (taksi di daerah wisata selalu borongan) kami akhirnya mendapatkan taksi yang dengan harga borongan lebih masuk akal. Nekad, kami semua memasuki taksi, dengan posisi empat orang di belakang dan dua orang di depan. Kalau dipikir-pikir taksi di Jakarta mana mau mengangkut enam orang sekaligus, dengan posisi dua orang di depan.
Setengah jam kemudian kami tiba di Somboon pusat di jalan Surawong. Akhirnya kami bisa bernapas lega, lepas dari kesesakan akibat kekurangan oksigen di dalam taksi, hahaha...
Segera kami memasuki restaurant dan memesan makanan, KALAP!!! Kami memesan 2 porsi Curry crab, ! porsi oyster with egg, 1 porsi kangkung cah bawang putih, 1 porsi udang bakar, 1 porsi udang goreng garing dengan bawang putih, 1 porsi Ikan with basil leaf. Sebenarnay masih ada beberapa menu lagi namun saya lupa, dan saking kelaparannya kami satu pun tak ada yang memotret makanan yang kami pesan. Saat makanan datang, langsung habis diserbu oleh manusia-manusia yang kelaparan ini. Maafkan kami, hahaha.
Hanya dalam 20 menit semua menu pesanan ludes. Saat tersadar kami melihat sekeliling, pengunjung restoran tersebut tidak ada yang makan sekalap kami. Mereka makan dengan anggun, bahkan dalam cara mereka memakan kepiting. Sekarang kami semua kekenyangan. Semua menu yang dipesan boleh kami acungi jempol.
Segera kami membayar tagihan pesanan kami dan melanjutkan perjalanan, karena masih pukul 7 malam, ada perubahan rencana. Malam ini rencana awal kami adalah melihat Thai Girl Show, namun karena masih pagi maka kami sepakat memutuskan untuk menukar jadwal. Selanjutnya kami meutuskan untuk mengunjungi pasar malam Asiatique di River front. Mencari taksi saat rush hour cukup sulit, dan daerah situ jauh dari BTS station. Cukup lama akhirnya kami mendapatkan sebuah taksi. Namun kali ini tidak semua dari kami naik satu taksi seperti tadi sore, karena itu saya mencari sebuah tkasi lagi. Perjalanan macet dan semua taksi yang lewat penuh. Saya dan dua orang teman memutuskan berjalan kaki hingga mendapatkan taksi. Lima belas menit berjalan kaki akhirnya kami bisa mendapatkan taksi.
Setibanya di Asiatique, kami berpisah. Masing-masing mencari kebutuhannya sendiri-sendiri, ada yang mencari souvenir untuk oleh-oleh, ada yang melihat-lihat, semua kebutuhan berbeda. Asiatique Night Market merupakan pengisi kekosongan setelah pasar malam Lumpini tutup. Asiatique dibuka sejak Mei 2012. Merupakan pasar malam yang menggabungkan gaya hidup dan fashion, harga yang ditawarkan cukup mahal dibandingkan pasar malam lainnya. Di sini terdapat kompleks untuk berbelanja, ada sekitar 1500 toko yang berpartisipasi mulai dari toko yang menjual pakaian, souvenir, sabun, handicraft, bahkan sampai ke furniture. Terdapat dua teater yang ikut memeriahkan Asiatique. Calypso theather dan Joe Louis Puppet theather. Sayangnya kami tidak ada yang sempat melihat pertunjukkan tersebut. Setelah puas berkeliling dan membeli beberapa souvenir untuk dibagikan ke teman-teman di Jakarta, kami berkumpul kembali dan kembali ke hotel. Dalam perjalanan pulang terjadilah insiden 'berdarah' yang sayang sekali tidak dapat saya tuliskan di sini. Kami pun tiba di hotel dalam keadaan capai dan penat.
Hari ke -5, 21 Nov
Kami berencana menuju ke Madam Tussaud yang terletak di Siam Discovery, tiket online sudah di tangan. Hanya empat orang diantara kami yang menuju ke sana, dua orang lainnya akan menyusul.
Tidak ada antrian saat disana, karena kami membeli tiket sebelum jam 12 siang, sehingga tidak begitu ramai dan lagi harganya lebih murah. Yang kami lakukan disana hanya berfoto. Tak ada yang dapat diceritakan lebih lanjut.
Sepulangnya dari Madam Tussaud kami pun makan siang di Siam Paragon, menu makan siang saya kali ini adalah Sirloin Pork with sticky rice. Rasanya unik, asam, asin dan gurih dengan nasi ketan hangat. Unforgetable tastes and drooling now while typing about it. Damn! Sayang sekali saya lupa nama restaurant yang saya singgahi saat itu. Tak sempat berkeliling di Siam Paragon, hanya sempat mengunjungi Gourmet Market (supermarket) dan membeli beberapa kebutuhan salah satunya sosis. Sosis di sana entah mengapa saya suka. Saya dan beberapa teman membelinya. Mengejar rencana berikutnya, maka kami segera kembali ke hotel. Mandi serta bersiap-siap untuk dinner di kapal cruise. Kapal cruise yang kami pesan adalah Chao Phraya Princess Cruise. Travel akan menjemput kami pukul 6 sore di Grand terminal 21 hotel lobby. Mereka tidak dapat menjemput kami di hotel karena daerah penjemputannya tidak mencapai daerah hotel kami. Sebenarnya Grand terminal 21 tidak begitu jauh, hanya saja karena sore itu merupakan rush hour sehingga traffic jam menjadi alasan mengapa kami terlambat. Sekeluarnya dari hotel, kami melihat jalanan tidak cukup padat sehingga memutuskan utnuk naik taksi. Taksi pertama membawa tiga orang teman kami. Saya dan kedua teman lainnya menunggu taksi kedua. Lima menit kemudian kami mendapatkan taksi. Hanya berjarak beberapa meter dari tempat kami menunggu taksi, tiba-tiba jalanan mulai padat dan macet. hampir 30 menit kami hanya maju bergerak tidak terlalu jauh. Akhirnya kami memutuskan untuk berjalan kaki, Grand Termoinal 21 hanya berjarak 2 hingga 3 kilometer didepan kami. Sembari jalan saya mencoba menelpon agen travel yang menjemput mecoba negosiasi untuk menunggu kami, karena kami akan terlambat namun wanita di seberang telepon mengatakan bahwa supir akan menunggu sekitar lima menit saja. Cukup panik, kami bertiga ( tiga teman kami lainnya masih berada di taksi pertama) berjalan setengah berlari, menyebrang jalan meski lampu untuk menyebrang masih merah (Jangan DITIRU!!!). Saat menyebrang saya mendengar seorang bule berkata kepada temannya " they're bad tourist!" (damn! hahaha karena kami menyebrang tanpa mengikuti peraturan yang ada). Hampir pingsan, penuh keringat kami sampai di lobby hotel Grand terminal 21. Supir sudah menunggu dan kami memberitahu bahwa ketiga teman lainnya masih dalam perjalanan. Kira-kira 10 menit kemudian mereka tiba. Mereka ternyata turun dari taksi dan menyebrang ke sini dengan berjalan kaki. Cukup lega, karena kami tidak ditinggalkan...
Tiba di riverfront, kami masih menunggu untuk kedatangan kapal cruise kami. sekitar 30 menit menunggu akhirnya kapal cruise kami datang.
Meja kami di atas dek. Saya memilih upper deck karena lebih hidup suasananya dibandingkan dengan lower deck. Lower deck terlihat seperti fine dining yang serius dan membosankan. Makanan yang berlimpah ruah cukup untuk mengisi perut yang keroncongan ini akibat lari dan serangan panik tadi. Setelah kapal berjalan maka penumpang mulai dipersilahkan untuk mengambil makanan. Antrian yang panjang saat mengambil makanan terjadi. Sembari mengantri saya mencoba melihat menu apa saja yang tersedia. Mulai dari western food, thai food, indian food. Cukup beraneka ragam. Ada beberapa menu yang cukup menggugah selera. Sembari makan, kamipun menikmati pemandangan sungai Chao phraya. Terlihat gemerlapnya Wat Arun dalam cahaya lampu, Grand palace yang megah dalam keheningan malam. Hampir dua jam tak terasa, setelah memutari sungai Chao phraya sembari makan malam, mendengar live music dan berfoto kami harus kembali turun ke darat. Mobil travel sudah menunggu dan kami kembali di antar ke grand terminal 21 serta selebihnya kami kembali ke hotel dengan BTS.
Hari ke -6, 20 Nov
Hari ini adalah yang di tunggu-tunggu!!! SHOPPING DAY. Keluar dari hotel sekitar pukul 10 pagi menuju ke Pratunam area, meeting point kami adalah di hotel indra regent. Bertemu di hotel indra regent kami segera membeli berbagai cemilan dan oleh-oleh berupa makanan khas Thailand. Durian chips, Tamarine dan lain lain. Dalam waktu satu jam tangan kami sudah penuh dengan berbagai oleh-oleh makanan, Akhirnya tiga orang akan pulang dan menaruh belanjaan di hotel lalu kembali kemari. Sambil menunggu mereka datang, saya dan teman yang lain berjalan-jalan di Indra square. Tak lama kemudian mereka datang, dan kami berjalan kaki menuju daerah Makasaan untuk makan siang di sana. Restoran ini cukup enak. Ayah saya yang merekomendasikannya. T seafood. tak jauh bila ditempuh dengan berjalan kaki, sekitar 15 menit. Sesampainya di sana, kami memesan beberapa menu. Curry crab, oyster omelet, cumi lada garam, Tom yam seafood, kailan cah bawang putih, dan lain-lain (saya tidak ingat semua). Kali ini kami dalam keadaan lapar yang normal sehingga kami tidak memakan dengan rakus *blushing
Selanjutnya yang sudah kami semua tunggu-tunggu adalah Shopping to Platinum. Bangga dapat mengklaim tempat ini sebagai pusat shopping terbesar di Thailand, Platinum terletak di jalan phetchaburi d\persis di seberang komplek Pratu nam. Jam di tangan sudah menunjukkan pukul 2 siang, masih ada empat jam untuk berburu barang-barang murah yang bagus. Di sini terdapat pusat pakaian, tas, sepatu, aksesoris dll. TErbagi menjadi 3 zona yang hampir semuanya terdiri dari pakaian wanita (karena kaum hawa lah yang paling sering mengunjungi tempat ini). Untuk para pria disediakan hanya 1 lantai di Zona 2.
Kami berpencar, dan dalam waktu empat jam kami rata-rata telah menghabiskan uang sekitar 1 juta rupiah namun barang yang kami bawa pulang cukup banyak. Rata-rata pakaian wanita berkisar 200-500 baht saja. Salah seorang teman saya sudah memborong pulang 20 pakaian. Saya sendiri berbelanja sekitar 10 potong. Sayangnya pembeli dilarang mencoba pakaian yang akan dibeli, bahkan untuk mencoba dengan memakai pakaian lengkap pun tidak diperbolehkan. Untuk fitting room terdapat di toilet.JAdi bermodalkan kira-kira saja, saya nekad membeli. Masalah muat atau tidaknya urusan belakangan. Tak terasa waktu bergerak begitu cepat, toko-toko mulai tutup dan kami terpaksa pulang. Selanjtnya dengan membawa barang belanjaan kami pun menuju ke Pat pong red district. Tujuan utama kami adalah ingin melihat Ping Pong show ( thai girl show), saat menyebutkan tujuan kami, sang supir taksi bertanya " your pat pong is pat pong one or pat pong two? do you want to see show or shopping?" Sebelumnya saya mencari tahu di google tentang show ini. Seorang blgger menyebutkan bila supir tkasi bertanya Patpong one or two? jawab saja two. Akhirnya saya menjawab "shopping". Namun, seorang teman kami bertanya lebih jauh tentang show yang sang supir tawarkan. Akhirnya sang supir pun menawarkan untuk melihat show hanya dengan 1000 baht dan memberhentikan taksinya di sebuah kompleks ruko yang gelap. Terlihat dari dalam taksi beberapa tukang pukul yang sedang menjaga salah satu gedung. Kami pun berteriak, "NO! we want to go to Pat Pong two! shopping!" Supir taksi pun kesal dan melajukan kendaraannya menuju Night market Pat pong. Kami pun tiba di pusat keramaian Surawong road. Sesampainya di sana, kami mulai berjalan-jalan dan berhenti di sebuah toko tas, Naraya. Sepertinya uang kami tak pernah bisa habis, sebagian besar teman kami mulai belanja lagi. Cukup lama saya dan dua orang teman pria menunggu di luar toko. Hampir 30 menit dan mereka belum selesai berbelanja. Saya pun berniat menyusul mereka dan masuk dalam toko. Niat awal saya adalah menyuruh mereka segera memutuskan tas mana yang akan mereka beli karena malam kian larut. Tak disangka saya pun tergoda membeli sebuah tas (dasar perempuan hahaha) dan akhirnya mereka semua menunggu saya selesai membayar (saya jadi keluar yang terakhir). Barang bawaan kami pun semakin banyak. Kami pun berjalan menyusuri pasar malam, melewati setiap calo yang menawarkan show. Kami ingin mencari sebuah tempat show yang bernama Super Pussy yang sebelumnya kami lihat di internet. Semua jalanan te;ah kami lewati dan kami tak menemukannya. Akhirnya kami singgah untuk makan malam terlebih dahulu. Cukup kenyang, kami mulai mencari lagi, dan kali ini kami menemukannya, seorang calo menawrkan kami, dengan iming-iming hanya 100 baht untuk menonton. Kami berlima pun masuk ( seorang teman kami menolak untuk melihat). Sesampainya di lantai dua, terdapat sebuah panggung kecil dan ada beberapa tiang (seperti di film film striptease). Di panggung tersebut terdapat beberapa wanita yang menari mengikuti irama musik yang tak jelas di kuping. Ada seorang wanita saat itu yang sedang memeragakan menusuk balon dengan jarum menggunakan alat kelaminnya. Sebentar kami duduk, datanglah seorang ibu-ibu sekitar 50 tahun yang menawarkan minuman. Bukan menawarkan namun terlebih seperti memaksa kami. Harga minuman yang ditawarkan adalah 500 baht. Kami pun menolak dan mengatakan bahwa pria di luar tadi menawarkan tiket masuk hanya 100 baht ( calo tadi yang di luar), namun si ibu entah paham akana bahasa Inggris atau tidak di tengah kebisingan lagu tetap memaksa kami mengeluarkan 500 baht per orang. Dengan muka apatis dan menolak, akhirnya dia mengatakan "okay for five all of you, you give me 1500 baht and you can watch the show as long as you want and free drink." Dengan sisa-sisa baht kami, kami pun mengeluarkan uang kami. Minuman pun datang (kami memesan coca cola kaleng) dan sebisa mungkin kami meminumnya sesedikit mungkin. Setiap 15 menit sekali, seorang wanita paruh baya memeriksa minuman kami. Bila ada minuman yang habis, maka kami harus memesan lagi ( 300 baht lagi). Dan hampir setiap 20 menit sekali seorang wanita berbaju minim menyodorkan kotak tips. Selama 1 jam kami duduk disana, saya dan teman-teman sudah disodorkan 3 kali kotak tips. Karena sudah tak ada uang lagi, kami pun menolak memberikan tips. Pertunjukkan yang ditampilkan tidak seseru yang saya bayangkan. pertunjukkan pertama yang kami lihat adalah, menusuk balon dengan jarum, lalu menulis "welcome to Thailand", mengeluarkan pita kertas sepanjang hampir 2 meter dari lubang alat kelamin mereka, meniup peluit serta terompet, mengeluarkan silet dan membuka botol. Yang melakukan semuanya wanita. Kebanyakan berusia paruh baya dan tidak menarik dipandang mata. Saat pertunjukkan kembali ke awal pertama kali masuk, kami pun berniat keluar dan pulang ke hotel.
Sesampainya di hotel, kerja bakti untuk membereskan semua belanjaan kami ke dalam koper dimulai. Kami selesai sekitar pukul 2 pagi dini hari. Pesawat kami akan lepas landas pukul 10 pagi esok hari.
Lapaaarrr...!!! Kami semua bisa dibilang melewatkan makan siang, terakhir kami makan pagi pun sekitar jam 8 pagi. Waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 waktu setempat. Rencananya kami akan makan seafood pada hari ini. Sebuah restoran terkenal yang selalu ramai, dan selalu dipenuhi oleh turis, Somboon Seafood Restaurant. Untuk menuju ke sana, kami meutuskan untuk naik taksi. Setelah beberapa kali memanggil taksi (taksi di daerah wisata selalu borongan) kami akhirnya mendapatkan taksi yang dengan harga borongan lebih masuk akal. Nekad, kami semua memasuki taksi, dengan posisi empat orang di belakang dan dua orang di depan. Kalau dipikir-pikir taksi di Jakarta mana mau mengangkut enam orang sekaligus, dengan posisi dua orang di depan.
Setengah jam kemudian kami tiba di Somboon pusat di jalan Surawong. Akhirnya kami bisa bernapas lega, lepas dari kesesakan akibat kekurangan oksigen di dalam taksi, hahaha...
![]() |
| Somboon Seafood di Surawong road Courtesy : www.Somboonseafood.com |
Segera kami memasuki restaurant dan memesan makanan, KALAP!!! Kami memesan 2 porsi Curry crab, ! porsi oyster with egg, 1 porsi kangkung cah bawang putih, 1 porsi udang bakar, 1 porsi udang goreng garing dengan bawang putih, 1 porsi Ikan with basil leaf. Sebenarnay masih ada beberapa menu lagi namun saya lupa, dan saking kelaparannya kami satu pun tak ada yang memotret makanan yang kami pesan. Saat makanan datang, langsung habis diserbu oleh manusia-manusia yang kelaparan ini. Maafkan kami, hahaha.
![]() |
| Curry crab, Courtesy: www.catandnat.com |
Segera kami membayar tagihan pesanan kami dan melanjutkan perjalanan, karena masih pukul 7 malam, ada perubahan rencana. Malam ini rencana awal kami adalah melihat Thai Girl Show, namun karena masih pagi maka kami sepakat memutuskan untuk menukar jadwal. Selanjutnya kami meutuskan untuk mengunjungi pasar malam Asiatique di River front. Mencari taksi saat rush hour cukup sulit, dan daerah situ jauh dari BTS station. Cukup lama akhirnya kami mendapatkan sebuah taksi. Namun kali ini tidak semua dari kami naik satu taksi seperti tadi sore, karena itu saya mencari sebuah tkasi lagi. Perjalanan macet dan semua taksi yang lewat penuh. Saya dan dua orang teman memutuskan berjalan kaki hingga mendapatkan taksi. Lima belas menit berjalan kaki akhirnya kami bisa mendapatkan taksi.
Setibanya di Asiatique, kami berpisah. Masing-masing mencari kebutuhannya sendiri-sendiri, ada yang mencari souvenir untuk oleh-oleh, ada yang melihat-lihat, semua kebutuhan berbeda. Asiatique Night Market merupakan pengisi kekosongan setelah pasar malam Lumpini tutup. Asiatique dibuka sejak Mei 2012. Merupakan pasar malam yang menggabungkan gaya hidup dan fashion, harga yang ditawarkan cukup mahal dibandingkan pasar malam lainnya. Di sini terdapat kompleks untuk berbelanja, ada sekitar 1500 toko yang berpartisipasi mulai dari toko yang menjual pakaian, souvenir, sabun, handicraft, bahkan sampai ke furniture. Terdapat dua teater yang ikut memeriahkan Asiatique. Calypso theather dan Joe Louis Puppet theather. Sayangnya kami tidak ada yang sempat melihat pertunjukkan tersebut. Setelah puas berkeliling dan membeli beberapa souvenir untuk dibagikan ke teman-teman di Jakarta, kami berkumpul kembali dan kembali ke hotel. Dalam perjalanan pulang terjadilah insiden 'berdarah' yang sayang sekali tidak dapat saya tuliskan di sini. Kami pun tiba di hotel dalam keadaan capai dan penat.
Hari ke -5, 21 Nov
Kami berencana menuju ke Madam Tussaud yang terletak di Siam Discovery, tiket online sudah di tangan. Hanya empat orang diantara kami yang menuju ke sana, dua orang lainnya akan menyusul.
Tidak ada antrian saat disana, karena kami membeli tiket sebelum jam 12 siang, sehingga tidak begitu ramai dan lagi harganya lebih murah. Yang kami lakukan disana hanya berfoto. Tak ada yang dapat diceritakan lebih lanjut.
Sepulangnya dari Madam Tussaud kami pun makan siang di Siam Paragon, menu makan siang saya kali ini adalah Sirloin Pork with sticky rice. Rasanya unik, asam, asin dan gurih dengan nasi ketan hangat. Unforgetable tastes and drooling now while typing about it. Damn! Sayang sekali saya lupa nama restaurant yang saya singgahi saat itu. Tak sempat berkeliling di Siam Paragon, hanya sempat mengunjungi Gourmet Market (supermarket) dan membeli beberapa kebutuhan salah satunya sosis. Sosis di sana entah mengapa saya suka. Saya dan beberapa teman membelinya. Mengejar rencana berikutnya, maka kami segera kembali ke hotel. Mandi serta bersiap-siap untuk dinner di kapal cruise. Kapal cruise yang kami pesan adalah Chao Phraya Princess Cruise. Travel akan menjemput kami pukul 6 sore di Grand terminal 21 hotel lobby. Mereka tidak dapat menjemput kami di hotel karena daerah penjemputannya tidak mencapai daerah hotel kami. Sebenarnya Grand terminal 21 tidak begitu jauh, hanya saja karena sore itu merupakan rush hour sehingga traffic jam menjadi alasan mengapa kami terlambat. Sekeluarnya dari hotel, kami melihat jalanan tidak cukup padat sehingga memutuskan utnuk naik taksi. Taksi pertama membawa tiga orang teman kami. Saya dan kedua teman lainnya menunggu taksi kedua. Lima menit kemudian kami mendapatkan taksi. Hanya berjarak beberapa meter dari tempat kami menunggu taksi, tiba-tiba jalanan mulai padat dan macet. hampir 30 menit kami hanya maju bergerak tidak terlalu jauh. Akhirnya kami memutuskan untuk berjalan kaki, Grand Termoinal 21 hanya berjarak 2 hingga 3 kilometer didepan kami. Sembari jalan saya mencoba menelpon agen travel yang menjemput mecoba negosiasi untuk menunggu kami, karena kami akan terlambat namun wanita di seberang telepon mengatakan bahwa supir akan menunggu sekitar lima menit saja. Cukup panik, kami bertiga ( tiga teman kami lainnya masih berada di taksi pertama) berjalan setengah berlari, menyebrang jalan meski lampu untuk menyebrang masih merah (Jangan DITIRU!!!). Saat menyebrang saya mendengar seorang bule berkata kepada temannya " they're bad tourist!" (damn! hahaha karena kami menyebrang tanpa mengikuti peraturan yang ada). Hampir pingsan, penuh keringat kami sampai di lobby hotel Grand terminal 21. Supir sudah menunggu dan kami memberitahu bahwa ketiga teman lainnya masih dalam perjalanan. Kira-kira 10 menit kemudian mereka tiba. Mereka ternyata turun dari taksi dan menyebrang ke sini dengan berjalan kaki. Cukup lega, karena kami tidak ditinggalkan...
Tiba di riverfront, kami masih menunggu untuk kedatangan kapal cruise kami. sekitar 30 menit menunggu akhirnya kapal cruise kami datang.
![]() |
| our cruise ship is coming... Finally! |
Meja kami di atas dek. Saya memilih upper deck karena lebih hidup suasananya dibandingkan dengan lower deck. Lower deck terlihat seperti fine dining yang serius dan membosankan. Makanan yang berlimpah ruah cukup untuk mengisi perut yang keroncongan ini akibat lari dan serangan panik tadi. Setelah kapal berjalan maka penumpang mulai dipersilahkan untuk mengambil makanan. Antrian yang panjang saat mengambil makanan terjadi. Sembari mengantri saya mencoba melihat menu apa saja yang tersedia. Mulai dari western food, thai food, indian food. Cukup beraneka ragam. Ada beberapa menu yang cukup menggugah selera. Sembari makan, kamipun menikmati pemandangan sungai Chao phraya. Terlihat gemerlapnya Wat Arun dalam cahaya lampu, Grand palace yang megah dalam keheningan malam. Hampir dua jam tak terasa, setelah memutari sungai Chao phraya sembari makan malam, mendengar live music dan berfoto kami harus kembali turun ke darat. Mobil travel sudah menunggu dan kami kembali di antar ke grand terminal 21 serta selebihnya kami kembali ke hotel dengan BTS.
![]() |
| our table at Upper deck |
Hari ke -6, 20 Nov
Hari ini adalah yang di tunggu-tunggu!!! SHOPPING DAY. Keluar dari hotel sekitar pukul 10 pagi menuju ke Pratunam area, meeting point kami adalah di hotel indra regent. Bertemu di hotel indra regent kami segera membeli berbagai cemilan dan oleh-oleh berupa makanan khas Thailand. Durian chips, Tamarine dan lain lain. Dalam waktu satu jam tangan kami sudah penuh dengan berbagai oleh-oleh makanan, Akhirnya tiga orang akan pulang dan menaruh belanjaan di hotel lalu kembali kemari. Sambil menunggu mereka datang, saya dan teman yang lain berjalan-jalan di Indra square. Tak lama kemudian mereka datang, dan kami berjalan kaki menuju daerah Makasaan untuk makan siang di sana. Restoran ini cukup enak. Ayah saya yang merekomendasikannya. T seafood. tak jauh bila ditempuh dengan berjalan kaki, sekitar 15 menit. Sesampainya di sana, kami memesan beberapa menu. Curry crab, oyster omelet, cumi lada garam, Tom yam seafood, kailan cah bawang putih, dan lain-lain (saya tidak ingat semua). Kali ini kami dalam keadaan lapar yang normal sehingga kami tidak memakan dengan rakus *blushing
Selanjutnya yang sudah kami semua tunggu-tunggu adalah Shopping to Platinum. Bangga dapat mengklaim tempat ini sebagai pusat shopping terbesar di Thailand, Platinum terletak di jalan phetchaburi d\persis di seberang komplek Pratu nam. Jam di tangan sudah menunjukkan pukul 2 siang, masih ada empat jam untuk berburu barang-barang murah yang bagus. Di sini terdapat pusat pakaian, tas, sepatu, aksesoris dll. TErbagi menjadi 3 zona yang hampir semuanya terdiri dari pakaian wanita (karena kaum hawa lah yang paling sering mengunjungi tempat ini). Untuk para pria disediakan hanya 1 lantai di Zona 2.
Kami berpencar, dan dalam waktu empat jam kami rata-rata telah menghabiskan uang sekitar 1 juta rupiah namun barang yang kami bawa pulang cukup banyak. Rata-rata pakaian wanita berkisar 200-500 baht saja. Salah seorang teman saya sudah memborong pulang 20 pakaian. Saya sendiri berbelanja sekitar 10 potong. Sayangnya pembeli dilarang mencoba pakaian yang akan dibeli, bahkan untuk mencoba dengan memakai pakaian lengkap pun tidak diperbolehkan. Untuk fitting room terdapat di toilet.JAdi bermodalkan kira-kira saja, saya nekad membeli. Masalah muat atau tidaknya urusan belakangan. Tak terasa waktu bergerak begitu cepat, toko-toko mulai tutup dan kami terpaksa pulang. Selanjtnya dengan membawa barang belanjaan kami pun menuju ke Pat pong red district. Tujuan utama kami adalah ingin melihat Ping Pong show ( thai girl show), saat menyebutkan tujuan kami, sang supir taksi bertanya " your pat pong is pat pong one or pat pong two? do you want to see show or shopping?" Sebelumnya saya mencari tahu di google tentang show ini. Seorang blgger menyebutkan bila supir tkasi bertanya Patpong one or two? jawab saja two. Akhirnya saya menjawab "shopping". Namun, seorang teman kami bertanya lebih jauh tentang show yang sang supir tawarkan. Akhirnya sang supir pun menawarkan untuk melihat show hanya dengan 1000 baht dan memberhentikan taksinya di sebuah kompleks ruko yang gelap. Terlihat dari dalam taksi beberapa tukang pukul yang sedang menjaga salah satu gedung. Kami pun berteriak, "NO! we want to go to Pat Pong two! shopping!" Supir taksi pun kesal dan melajukan kendaraannya menuju Night market Pat pong. Kami pun tiba di pusat keramaian Surawong road. Sesampainya di sana, kami mulai berjalan-jalan dan berhenti di sebuah toko tas, Naraya. Sepertinya uang kami tak pernah bisa habis, sebagian besar teman kami mulai belanja lagi. Cukup lama saya dan dua orang teman pria menunggu di luar toko. Hampir 30 menit dan mereka belum selesai berbelanja. Saya pun berniat menyusul mereka dan masuk dalam toko. Niat awal saya adalah menyuruh mereka segera memutuskan tas mana yang akan mereka beli karena malam kian larut. Tak disangka saya pun tergoda membeli sebuah tas (dasar perempuan hahaha) dan akhirnya mereka semua menunggu saya selesai membayar (saya jadi keluar yang terakhir). Barang bawaan kami pun semakin banyak. Kami pun berjalan menyusuri pasar malam, melewati setiap calo yang menawarkan show. Kami ingin mencari sebuah tempat show yang bernama Super Pussy yang sebelumnya kami lihat di internet. Semua jalanan te;ah kami lewati dan kami tak menemukannya. Akhirnya kami singgah untuk makan malam terlebih dahulu. Cukup kenyang, kami mulai mencari lagi, dan kali ini kami menemukannya, seorang calo menawrkan kami, dengan iming-iming hanya 100 baht untuk menonton. Kami berlima pun masuk ( seorang teman kami menolak untuk melihat). Sesampainya di lantai dua, terdapat sebuah panggung kecil dan ada beberapa tiang (seperti di film film striptease). Di panggung tersebut terdapat beberapa wanita yang menari mengikuti irama musik yang tak jelas di kuping. Ada seorang wanita saat itu yang sedang memeragakan menusuk balon dengan jarum menggunakan alat kelaminnya. Sebentar kami duduk, datanglah seorang ibu-ibu sekitar 50 tahun yang menawarkan minuman. Bukan menawarkan namun terlebih seperti memaksa kami. Harga minuman yang ditawarkan adalah 500 baht. Kami pun menolak dan mengatakan bahwa pria di luar tadi menawarkan tiket masuk hanya 100 baht ( calo tadi yang di luar), namun si ibu entah paham akana bahasa Inggris atau tidak di tengah kebisingan lagu tetap memaksa kami mengeluarkan 500 baht per orang. Dengan muka apatis dan menolak, akhirnya dia mengatakan "okay for five all of you, you give me 1500 baht and you can watch the show as long as you want and free drink." Dengan sisa-sisa baht kami, kami pun mengeluarkan uang kami. Minuman pun datang (kami memesan coca cola kaleng) dan sebisa mungkin kami meminumnya sesedikit mungkin. Setiap 15 menit sekali, seorang wanita paruh baya memeriksa minuman kami. Bila ada minuman yang habis, maka kami harus memesan lagi ( 300 baht lagi). Dan hampir setiap 20 menit sekali seorang wanita berbaju minim menyodorkan kotak tips. Selama 1 jam kami duduk disana, saya dan teman-teman sudah disodorkan 3 kali kotak tips. Karena sudah tak ada uang lagi, kami pun menolak memberikan tips. Pertunjukkan yang ditampilkan tidak seseru yang saya bayangkan. pertunjukkan pertama yang kami lihat adalah, menusuk balon dengan jarum, lalu menulis "welcome to Thailand", mengeluarkan pita kertas sepanjang hampir 2 meter dari lubang alat kelamin mereka, meniup peluit serta terompet, mengeluarkan silet dan membuka botol. Yang melakukan semuanya wanita. Kebanyakan berusia paruh baya dan tidak menarik dipandang mata. Saat pertunjukkan kembali ke awal pertama kali masuk, kami pun berniat keluar dan pulang ke hotel.
![]() |
| source: www. crystalphuong.net |
Pagi-pagi kami pun bangun dan segera berkemas untuk kembali ke Jakarta.
ลาก่อน Thailand ...
ลาก่อน Thailand ...
Rabu, 04 Desember 2013
Amazing Holiday at Amazing Thailand (part 1)
Amazing Holiday
Setelah sekian lama tidak menulis kisah perjalanan saya di blog ini, kini saya akan menuliskannya kembali . Ada beberapa perjalanan yang belum saya sempat tulis namun akan saya akan usahakan untuk menuangkannya di blog ini.
Hari pertama 17 nov,
Kami berangkat dini hari untuk mengejar pesawat yg berangkat pk 07.00, beberapa teman kami sudah tiba di Bandara Soekarno - hatta. Kami segera check in counter dan melalui pemeriksaan imigrasi dan siap menunggu di Gate yang telah di tentukan. Empat jam kemudian kami tiba di Bandara Suvarnabhumi, Bangkok. Secepatnya kami mengambil barang bawaan kami dan mencari Free shuttle bus menuju Badnara Don Mueang. Kami bertanya pada petugas setempat dimana letak free shuttle bus menuju Don Mueang? mereka menjawab " at exit gate 3". kami kesana lalu menunjukkan tiket kami yang menuju Chiang Mai.
Perjalanan menuju Don mueang kira2 50 menit hingga 90 menit bila macet. Lucky us there's no traffic jam for that moment. Kami tiba dalam 50 menit perjalanan. Tiba disana, kami mencari food court untuk mengisi kekosongan perut. Mencoba makan di Taurus Food court di lantai 3, pelayan yang melayani cukup unik. Mereka adalah transgender Thailand. Sedikit bisa dan mengerti bahasa Inggris, dia melayani kami dengan mencatat pesanan menu yang kami tunjuk. Harga menu cukup menguras kantong. Salah satu teman berceletuk, "katanya makanan di Thailand murah, ini kok mahal banget?" Jelas saja mahal, ini kan di airport. Pesanan kami pun datang, rasanya standard, beberapa teman merasa kecewa. Udah mahal, rasanya ga sesuai harga.
Setelah selesai makan, kami menuju check in counter dan disana beberapa wanita mengenakan seragam dan memberikan kepada setiap penumpang yang akan check in sebuah batok kelapa yang didalamnya terdapat lilin yang diukir menyerupai bunga. Hari itu merupaka Festival Loy Krathong, dimana setiap penduduk Thailand maupun turis yang berkunjung dapat menaruh benda tersebut di sungai.Perjalanan ke Chiang Mai dengan domestic flight sekitar 60 menit. Kami sampai di Chiang Mai sekitar 17.30 waktu setempat. Segera menuju ke hotel, mengurus kamar dan meletakkan barang2. lalu kami semua berjalan menuju tempat festival Yi Peeng. Yi peeng festival merupakan salah satu tujuan utama kami. setibanya di jembatan, keadaan sudah ramai, sudah banyak khom loi ( lentera terbang) yang menghiasi langit. Very beautiful.
| very crowded |
| mulai menyalakan api di khom loi |
Kami segera membeli khom loi, membakarnya dan menunggu sampai uap di dalam khom loi cukup untuk menerbangkannya. sembari menunggu khom loi siap terbang, kami berfoto ria.
khom loi pertama terbang dengan indahnya. Menghiasi langit Chiang Mai malam itu.
Kami pun bergantian menerbangkan khom loi dan berfoto, bahkan meminta beberapa turis lain untuk memfoto kami.
| sebelum melepaskan lentera |
Puas melihat festival Yi Peeng dan menerbangkan khom loi (kami menerbangkan 4 khom loi hari itu), lalu kamipun membeli krathong untuk kami alirkan di sungai. Pinggir sungai sangat padat dengan pengunjung yang melihat Loy Krathong. Menemukan sedikit celah, kami pun segera menyalakan korek api dan membakar dupa serta mengalirkannya ke sungai. Angin saat itu bertiup agak kencang jadi kami harus berusaha kuat agar lilin tidak mati. Cukup sulit untuk mempertahankan agar lilin terus menyala. Seorang teman kami menyerah dan membiarkan krathongnya mengalir tanpa lilin yang menyala.
| Loy Krathong |
Puas dengan Loy Krathong, kami berjalan menuju pasar malam, mencoba berbagai makanan pinggiran disana. Pertama-tama kami mencoba kelapa. Enak! dan murah, hanya 20 Baht ( sekitar 7500 rupiah) lalu berjalan serta menemukan cemilan lain. Mirip kue cubit yang kita kenal tapi berbahan dasar santan dan rasanya gurih serta manis. Lalu mencoba daging ayam yang di beri bumbu pedas, rasanya enak. Perut mulai terisi penuh dengan berbagai cemilan pasar, tapi beberapa teman kami masi merasa lapar, dan dalam perjalanan menuju ke hotel kami berhenti dan makan di restoran mie.
| mie yang kami tak tahu namanya, tapi rasanya enak dan murah ! |
Kami pun berjalan ke hotel untuk beristirahat. Besok pagi kami akan meneruskan perjalanan menuju Chiang Rai.
Hari ke-2 18 nov,
Setelah breakfast kamipun dijemput oleh travel dan menuju Chiang Rai. Peserta perjalanan ini adalah 13 orang ( kami 6 orang, 3 orang china, 2 orang Italy dan 2 orang Amerika). Tujuan pertama kami adalah Hot Spring Chiang Rai. Berfoto sebentar disana, air yang keluar dari dalam tanah dan rasanya hangat. Banyak penjual yang menjajakan telur. dengan merendam kaki para turis sembari merebus telur. Patut dicoba, sayangnya Travel kami hanya memberikan waktu 15 menit disana.
Perjalanan selanjutnya menuju White Temple, inipun merupakan tujuan utama kami. mebutuhkan waktu kira2 50 menit dari kota Chiang Rai. Jalanan menuju ke sana cukup berkelok-kelok dan membuat salah satu teman mabuk darat. Setelah melalui perjalanan yang cukup menyiksa, kami pun tiba di White temple (wat rong khun). White temple ini merupakan kuil Budhis yang lain daripada kebanyakan kuil di Thailand. Dibangun sejak 1997 oleh seorang seniman yang bernama Chalermchai Kosipitpat. Di dalam kuil ini terdapat lukisan dinding mengenai nirwana dan neraka. Sampai saat ini lukisan tersebut belum selesai, bahkan sang seniman sendiripun tak mengetahui kapan lukisan beserta kuil ini akan selesai.
Perjalanan kami selanjutnya menuju golden triangle, dimana kami akan menyebrang menuju Laos tanpa memerlukan visa. Mengapa disebut sebagai Golden Triangle? Hal ini dikarenakan sebelum abad 21, ketiga negara yang membentuk Golden traingle tersebut ( Burma /Myanmar, Laos dan Thailand) adalah penghasil terbesar opium. Luas Golden Triangle mencapai 950.000km2. Golden Triangle ini dilewati oleh dua sungai yakni Sungai Mekong dan Sungai Ruak. Menurut pemandu wisata kami, bila kita menyusuri sungai Mekong terus menerus, kami akan tiba di Yunan, China. Setelah menyebrangi Sungai Mekong menuju Laos, kamipun tiba di negara Laos, di desa kecil yang kami tak tahu apa namanya.
Penduduk desa tersebut menjual Snake whisky, dan beberapa minuman keras lainnya. Di dalam botol2 whisky tersebut, terdapat berbagai macam binatang mulai dari ular, tokek, kalajengking (scorpion), ginseng bahkan sampai penis harimau. Whisky yang mereka jual, sangat keras sehingga dapat sekaligus menjadi pengawet layaknya formalin. Saya dan beberapa teman mencoba Whisky Ginseng. Rasanya amat sangat panas di kerongkongan. Bagi penggemar minuman beralkohol, ini layak dicoba.
Kami pun melanjutkan perjalanan, menuju perbatasan Myanmar dan Thailand. The northest point of Thailand. Namun, berbeda dengan Laos, bila kami ingin pergi ke Myanmar kami harus mengajukan visa dan biayanya sekitar 500 baht. Kami menuju tempat yang disebut Mae Sai border gate. Kami hanya sebentar disana. Sekitar kami merupakan penjual yang menjajakan barang dagangan yang kebanyakan berasal dari China.
Kamipun segera melanjutkan perjalanan, menuju desa Karen Long neck. dimana penduduknya mengenakan kalung seberat 4 hingga 5 kg di lehernya. Mereka percaya bahwa semakin panjang leher mereka akan terlihat semakin cantik. Perjalanan kami membutuhkan waktu 45 menit menuju desa tersebut. Long Neck Karen Hilltribe merupakan pelarian dari Burma. Mereka menetap di Thailand dan pihak Thailand menjadikan mereka sebagai salah satu atraksi untuk menangkap minat turis-turis asing. Desa mereka kebanyakan menjual scarf, tas , pajangan serta souvenir yang harganya relatif lebih mahal daripada di pasar. Kebanyakan remaja dan penduduk disana bekerja sebagai pembuat scarf. Setiap rumah memiliki toko tersendiri. Bila salah satu dari mereka pergi ke kota, maka mereka akan melepas kalung mereka dan menutupi leher mereka dengan scarf. Kalung tersebut tidak selalu mereka pakai, kadang sesekali dapat dilepas. Namun kebanyakan mereka memakainya hampir setiap saat bahkan saat tidur dan mandi.
Sebenarnya leher panjang mereka merupakan ilusi optik semata. Kalung tersebut mendesak bahu sehingga bahu mereka lebih turun, dan memperlihatkan seolah-olah leher mereka memanjang. Mitos mengatakan bila mereka melepas kalung yang melingkari leher mereka maka mereka akan mati, namun hal tersebut dibuktikan dengan beberapa foto dokumentasi para gadis remaja yang sedang berfoto ria tanpa kalung mereka, dan mereka tidak mati karena tidak ada penyangga pada lehernya.
oh iya, penduduk yang mengenakan kalung tersebut hanya para wanita, dimulai saat berusia tiga tahun.
Kami pun kembali ke Chiang Mai, dan saat itu hujan deras mengguyur perjalanan pulang kami. Hal itu menyebabkan kami menghabiskan sisa malam hanya berada di hotel.
Hari ke-3, 19 Nov
Pagi harinya kamipun mengambil one day trip di sekitar Chiang Mai. Kami menuju Doi Inthanon National Park. Tujuan pertama kami adalah Wachiratan Waterfall, merupakan air terjun kedua terbesar di National Park Doi Inthanon. Cukup bagus, namun sayang kami datang saat cuaca berawan. Bila cuaca cerah, kami akan melihat pelangi di bagian bawah air terjun. Sekitar 30 menit kami menikmati suasana disana, berfoto ria dan sedikit membeli camilan kami pun kembali ke mini bus dan melanjutkan perjalanan.
Selanjutnya kami berhenti di Siritharn Waterfall, air terjun kedua yang kami datangi. Tidak sebagus Wachirathan, Siritharn waterfall memiliki ketinggian sekitar 40 m.
Kami hanya melihat dari kejauhan. berfoto sebentar lalu menuju ke The summit of Doi inthanon. Menuju ke titik tertinggi dari Thailand, kami menuju puncak Doi inthanon (2556 meter dari permukaan laut). Cuaca saat itu cukup dingin, sekitar 15 derajat. Dikabarkan bahwa bila musim dingin tiba (winter season) maka suhu di Doi inthanon dapat mencapai -3 derajat celsius. Kami melakukan trekking kecil-kecilan melalui jalan setapak sembari melihat pemandangan hutan hijau di sekeliling kami.
Tak lama sesudahnya kami menuju Pagoda raja dan ratu (The King's and Queen's Pagoda). Pagoda ini dibangun untuk memperingati ulang tahun pernikahan mereka yang ke - 60 tahun. di belakang Queen's pagoda terdapat taman bunga yang cukup indah. Sekali lagi sayang, cuaca kurang mendukung. selain gerimis terdapat juga kabut yang cukup tebal, sehingga mengurangi keindahan pagoda dan hasil foto kami.
Perjalanan kami hari ini telah selesai dan saat mencapai kota Chiang Mai, kami meminta agar diturunkan di dekat Night bazaar agar kami dapat mecoba Thai massage di daerah sekitar sebelum meninggalkan Chiang Mai malam ini.
Diturunkan dekat kota kamipun kebingungan memilih tempat pijat yang cukup menjanjikan, karena disekitar daerah itu terdapat begitu banyak tempat pijat. Tak lama kemudian kami pun mendatangi salah satunya. Kami berlima mecoba Thai massage dan seorang teman kami mencoba foot massage. Kami berlima ditempatkan disebuah ruangan, setelah mengganti pakaian akmi dengan pakaian longgar yang telah disediakan, lima orang wanita pemijat datang. Gerakan pijatpun dimulai. Bagi yang mudah merasa geli, saya sarankan agar jangan memilih Thai massage! Pijatan mereka dimulai dari paha bagian dalam dan lebih menekankan tekanan serta tarikan. Salah satu teman kami menjerit dan berteriak sepanjang sesi memijat berlangsung. Entah karena kesakitan atau geli, namun menurut kami cukup untuk menghilangkan sedikit kepenatan. Kami pun bergegas mencari makan malam di Night bazaar dan secepatnya kembali ke hotel. Kami pun mengambil inisiatif untuk menggunakan jasa red car (angkot merah) untuk kembali ke hotel, biaya seorang sekitar 20 baht. Setibanya di hotel, saya mencoba berbicara kepada sopir untuk membawa kami beserta koper-koper kami menuju terminal bis. Kami akan menaiki bis malam menuju Bangkok. Sang supir akhirnya setuju dengan bayaran 120 baht ( tetap 20 baht seorang) untuk membawa kami menuju terminal. Kami di turunkan di terminal bis chiang mai yang lama ( terminal bis di chiang mai ada dua, lama dan baru). Ternyata setelah bertanya kepada petugas terminal disana, kami salah terminal. Bis yang kami akan naiki tidak ada di terminal tersebut. Kami harus menyebrang dan menuju terminal bis yang dimaksud. Saat itu hujan turun dan cukup deras. Enam turis Indonesia menyebrang dengan membawa koper besar serta payung bukanlah pemandangan yang cukup indah. Kami pun tiba di terminal Nakhonchai. setelah yakin bahwa ini terminal yang benar, maka kami semua lega dan menunggu bis kami datang dan membawa kami semua ke Bangkok meninggalkan kota Chiang Mai.
Perjalanan selanjutnya menuju White Temple, inipun merupakan tujuan utama kami. mebutuhkan waktu kira2 50 menit dari kota Chiang Rai. Jalanan menuju ke sana cukup berkelok-kelok dan membuat salah satu teman mabuk darat. Setelah melalui perjalanan yang cukup menyiksa, kami pun tiba di White temple (wat rong khun). White temple ini merupakan kuil Budhis yang lain daripada kebanyakan kuil di Thailand. Dibangun sejak 1997 oleh seorang seniman yang bernama Chalermchai Kosipitpat. Di dalam kuil ini terdapat lukisan dinding mengenai nirwana dan neraka. Sampai saat ini lukisan tersebut belum selesai, bahkan sang seniman sendiripun tak mengetahui kapan lukisan beserta kuil ini akan selesai.
![]() |
| White temple |
![]() |
| tiba di Laos |
![]() |
| Whisky Tokek |
![]() |
| Snake Whisky |
Kami pun melanjutkan perjalanan, menuju perbatasan Myanmar dan Thailand. The northest point of Thailand. Namun, berbeda dengan Laos, bila kami ingin pergi ke Myanmar kami harus mengajukan visa dan biayanya sekitar 500 baht. Kami menuju tempat yang disebut Mae Sai border gate. Kami hanya sebentar disana. Sekitar kami merupakan penjual yang menjajakan barang dagangan yang kebanyakan berasal dari China.
![]() |
| salah satu remaja suku Karen long neck |
Sebenarnya leher panjang mereka merupakan ilusi optik semata. Kalung tersebut mendesak bahu sehingga bahu mereka lebih turun, dan memperlihatkan seolah-olah leher mereka memanjang. Mitos mengatakan bila mereka melepas kalung yang melingkari leher mereka maka mereka akan mati, namun hal tersebut dibuktikan dengan beberapa foto dokumentasi para gadis remaja yang sedang berfoto ria tanpa kalung mereka, dan mereka tidak mati karena tidak ada penyangga pada lehernya.
oh iya, penduduk yang mengenakan kalung tersebut hanya para wanita, dimulai saat berusia tiga tahun.
Kami pun kembali ke Chiang Mai, dan saat itu hujan deras mengguyur perjalanan pulang kami. Hal itu menyebabkan kami menghabiskan sisa malam hanya berada di hotel.
Hari ke-3, 19 Nov
Pagi harinya kamipun mengambil one day trip di sekitar Chiang Mai. Kami menuju Doi Inthanon National Park. Tujuan pertama kami adalah Wachiratan Waterfall, merupakan air terjun kedua terbesar di National Park Doi Inthanon. Cukup bagus, namun sayang kami datang saat cuaca berawan. Bila cuaca cerah, kami akan melihat pelangi di bagian bawah air terjun. Sekitar 30 menit kami menikmati suasana disana, berfoto ria dan sedikit membeli camilan kami pun kembali ke mini bus dan melanjutkan perjalanan.
Selanjutnya kami berhenti di Siritharn Waterfall, air terjun kedua yang kami datangi. Tidak sebagus Wachirathan, Siritharn waterfall memiliki ketinggian sekitar 40 m.
![]() |
| sirithan waterfall |
Tak lama sesudahnya kami menuju Pagoda raja dan ratu (The King's and Queen's Pagoda). Pagoda ini dibangun untuk memperingati ulang tahun pernikahan mereka yang ke - 60 tahun. di belakang Queen's pagoda terdapat taman bunga yang cukup indah. Sekali lagi sayang, cuaca kurang mendukung. selain gerimis terdapat juga kabut yang cukup tebal, sehingga mengurangi keindahan pagoda dan hasil foto kami.
![]() |
| kabut menutupi the King's Pagoda |
Perjalanan kami hari ini telah selesai dan saat mencapai kota Chiang Mai, kami meminta agar diturunkan di dekat Night bazaar agar kami dapat mecoba Thai massage di daerah sekitar sebelum meninggalkan Chiang Mai malam ini.
Diturunkan dekat kota kamipun kebingungan memilih tempat pijat yang cukup menjanjikan, karena disekitar daerah itu terdapat begitu banyak tempat pijat. Tak lama kemudian kami pun mendatangi salah satunya. Kami berlima mecoba Thai massage dan seorang teman kami mencoba foot massage. Kami berlima ditempatkan disebuah ruangan, setelah mengganti pakaian akmi dengan pakaian longgar yang telah disediakan, lima orang wanita pemijat datang. Gerakan pijatpun dimulai. Bagi yang mudah merasa geli, saya sarankan agar jangan memilih Thai massage! Pijatan mereka dimulai dari paha bagian dalam dan lebih menekankan tekanan serta tarikan. Salah satu teman kami menjerit dan berteriak sepanjang sesi memijat berlangsung. Entah karena kesakitan atau geli, namun menurut kami cukup untuk menghilangkan sedikit kepenatan. Kami pun bergegas mencari makan malam di Night bazaar dan secepatnya kembali ke hotel. Kami pun mengambil inisiatif untuk menggunakan jasa red car (angkot merah) untuk kembali ke hotel, biaya seorang sekitar 20 baht. Setibanya di hotel, saya mencoba berbicara kepada sopir untuk membawa kami beserta koper-koper kami menuju terminal bis. Kami akan menaiki bis malam menuju Bangkok. Sang supir akhirnya setuju dengan bayaran 120 baht ( tetap 20 baht seorang) untuk membawa kami menuju terminal. Kami di turunkan di terminal bis chiang mai yang lama ( terminal bis di chiang mai ada dua, lama dan baru). Ternyata setelah bertanya kepada petugas terminal disana, kami salah terminal. Bis yang kami akan naiki tidak ada di terminal tersebut. Kami harus menyebrang dan menuju terminal bis yang dimaksud. Saat itu hujan turun dan cukup deras. Enam turis Indonesia menyebrang dengan membawa koper besar serta payung bukanlah pemandangan yang cukup indah. Kami pun tiba di terminal Nakhonchai. setelah yakin bahwa ini terminal yang benar, maka kami semua lega dan menunggu bis kami datang dan membawa kami semua ke Bangkok meninggalkan kota Chiang Mai.
![]() |
| source:http://www.tolo-thailand.com/sites/default/files/styles/tolomediumpic/public/nca.jpg?itok=tXhixqqQ |
Langganan:
Komentar (Atom)



























